BUKITTINGGI – Sebanyak 60 orang pemangku adat dari Sawahlunto dan Sijunjung mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pemangku Adat Angkatan Pertama yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kegiatan yang bertujuan untuk menguatkan peran Niniak Mamak dan Bundo Kanduang di tengah dinamika zaman ini dilaksanakan di Hotel Grand Rocky, Bukittinggi, pada Jumat hingga Ahad, 14-16 November 2025. Bimtek ini merupakan realisasi langsung dari aspirasi masyarakat yang diperjuangkan oleh Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Fraksi PKS, Syofian Hendri.
Adaptasi Tanpa Mengubah Prinsip
Syofian Hendri, dalam keterangannya, menekankan pentingnya tokoh adat untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan sosial tanpa mengorbankan nilai dasar.
“Pendidikan adat Minangkabau harus mengikuti perkembangan zaman. Yang berubah itu adalah kemasan, tapi prinsipnya sama, yang kokoh dan tidak lekang oleh waktu,” ujar Syofian.
Ia menambahkan, “Inilah titik temu oleh niniak mamak kita bagaimana menjaga adat-istiadat tetap terwariskan kepada generasi muda. Bimtek ini membekali mereka agar lebih efektif dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya di tengah tantangan zaman yang modern.”
Warisan dari Niniak Turun ke KamanakanKegiatan yang diikuti oleh unsur Niniak Mamak dan Bundo Kanduang dari dua daerah ini berfokus pada peningkatan kemampuan pemangku adat dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan adat.
Tema sentral yang diangkat dalam angkatan perdana Bimtek ini adalah: “Dari Niniak Turun Ka Mamak, Dari Mamak Turun Ka Kamanakan”. Tema tersebut mencerminkan esensi pewarisan nilai dan tanggung jawab yang berkelanjutan dalam sistem adat Minangkabau.
Syofian Hendri berharap, melalui pelatihan intensif selama tiga hari ini, peserta dapat memperoleh pengetahuan baru, terutama metode yang inovatif, untuk menanamkan pemahaman adat kepada generasi muda. Upaya ini menjadi krusial mengingat arus informasi dan budaya luar yang semakin deras membutuhkan benteng nilai-nilai lokal yang kokoh. (SA)