PKS Sumbar: Taujih
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

23 Januari 2026

Tausyiah: Ramadhan Bukan Tempat Latihan

Tausyiah: Ramadhan Bukan Tempat Latihan


Oleh: Irsyad Syafar, Lc, M.Ed

Ketua Dewan Syariah Wilayah PKS Sumbar

Sahabat Nabi yang mulia, Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah Saw:

يا رسولَ اللَّهِ، لم أَرَك تَصومُ شَهْرًا منَ الشُّهورِ ما تصومُ من شعبانَ؟ قال: ذلِكَ شَهْرٌ يَغفُلُ النَّاسُ عنهُ بينَ رجبٍ ورمضانَ، وَهوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فيهِ الأعمالُ إلى ربِّ العالمينَ، فأحبُّ أن يُرفَعَ عمَلي وأَنا صائمٌ.

Artinya: "Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa di satu bulan dari seluruh bulan yang ada, seperti puasamu di bulan Sya'ban?" Rasulullah menjawab: "Itu (Sya'ban) adalah bulan yang manusia banyak lalai, bulan antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Pada bulan (Sya'ban) tersebut diangkatkan amalan-amalan manusia kepada Allah Tuhan semesta alam. Maka aku suka saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa." (HR An Nasai dan Ahmad).

Banyak pelajaran dari hadits ini yang bisa kita pahami dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya:

Pertama, para Sahabat Nabi itu sangat memperhatikan gerak-gerik dan perbuatan Rasulullah. Sehingga kalau nampak sesuatu yang sangat istimewa atau mencolok dari perbuatan Beliau, mereka akan bertanya apa rahasia dibalik itu. Kemudian, tentunya mereka meniru dan mengamalkannya. Jadilah karakter para Sahabat itu (secara umum) mengutamakan apa yang diutamakan oleh Rasul dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya. Apa yang prioritas bagi Rasul, bagi mereka juga akan diprioritaskan. Dan apa yang kurang penting baginya, juga akan mereka abaikan.

Kedua, bulan Sya'ban itu ternyata adalah salah satu bulan yang sangat penting dari 12 bulan Hijriyah. Yaitu, pada bulan tersebut amal manusia dilaporkan kepada Allah. Tentunya untuk dinilai dan dievaluasi. Ibarat sebuah lembaga, pada bulan Sya'ban adalah saat laporan tahunan bagi amalan manusia. Sebab ada di dalam hadits yang lain terdapat juga laporan pekanan amalan manusia yaitu di hari Senen dan hari Kamis. Dan ada lagi laporan harian di waktu Shubuh dan waktu Ashar. 

Catatan pentingnya adalah, sebaiknya saat amalan kita dilaporkan kepada Allah, kita dalam kondisi berpuasa. Itu akan menambah nilai ibadah yang kita lakukan. Melaksanakan shalat, tilawah, berdzikir, bersedekah dan lain-lain dalam kondisi berpuasa, akan menambah nilai ibadah tersebut di sisi Allah. Rasulullah Saw sangat suka kalau amalannya dilaporkan kepada Allah, sedangkan Beliau dalam kondisi berpuasa saat itu.

Ketiga, bulan Sya'ban ini dinyatakan Rasulullah sebagai bulan yang banyak manusia dalam kondisi lalai. Artinya jauh dari ketaatan dan kebaikan. Ini adalah sebuah peringatan kepada kita semua agar jangan masuk dalam kategori tersebut. Artinya lagi, bagi orang yang beriman bulan Sya'ban ini harus waspada, perbanyak amal shaleh, tingkatkan kualitas ibadah serta kurangi kesalahan dan dosa. Dengan demikian ia akan terhindar dari kelalaian.

Keempat, Rasulullah Saw banyak berpuasa di bulan Sya'ban. Kadang berpuasa separonya, kadang hampir semuanya. Itu artinya bulan Sya'ban adalah waktu bersiap-siap untuk menyambut bulan Ramadhan. Yaitu dengan berlatih berpuasa lebih banyak, agar saat  Ramadhan datang, puasa itu sudah menjadi biasa dan ringan. Tidak ada istilah letih, lesu, lelah, lapar apalagi "lupa" karena sudah terbiasa. Begitu juga ibadah-ibadah lainnya yang nanti akan dikerjakan di bulan Ramadhan, harus dilatih dan dibiasakan semenjak bulan Sya'ban.

Adalah sangat keliru kalau di bulan Ramadhan baru belajar puasa, baru belajar ibadah, baru mulai ke masjid, baru berlatih shalat malam (tahajjud), baru latihan sedekah dan lain-lain. Ramadhan itulah "perang" yang sebenarnya. Maka hanya tentara yang konyol saja yang di medan tempur baru latihan. Dan hanya prajurit yang bodoh saja yang masuk medan tempur tanpa persiapan.

Kita sekarang sudah di bulan Sya'ban, semoga kita dibimbing Allah untuk meningkatkan kebaikan kita di bulan ini. Mari kita sambut Ramadhan lebih awal. Hadaanallah waiyyakum jami'an.

01 Januari 2026

Tausyiah: Musibah Menimpa Agama

Tausyiah: Musibah Menimpa Agama


Oleh: Irsyad Syafar, Lc, M.Ed (Ketua DSW PKS Sumbar) 

Musibah yang menimpa kita di dunia ini berupa banjir, tanah longsor, gempa dan sebagainya memang suatu yang sangat berat menghadapinya. Apalagi bila kita kehilangan banyak harta atau bahkan kehilangan kelurga tercinta. Itu semua akan meninggalkan trauma dan luka, serta membutuhkan waktu untuk kembali normal seperti biasa.
Untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatera (Aceh, Sumut dan Sumbar) yang sampai saat ini masih jauh dari kata pulih, kita doakan semoga Allah memberikan mereka kekuatan dan mengganti kehilangan-kehilangan mereka dengan yang lebih baik. Baik kehilangan harta maupun kehilangan jiwa. Dan semoga kita terus dikuatkan untuk saling peduli dan membantu sesama kita, sekuat kemampuan yang ada.
Namun, ada musibah yang lebih berat dan lebih berbahaya. Yaitu musibah yang menimpa agama kita. Bentuknya adalah apabila seseorang semakin jauh dari Allah, lalai dan abai dari kewajiban ibadah atau jatuh ke dalam berbagai maksiat dan dosa. Maka itu semua adalah musibah yang menimpa agama.
Kalau terkait musibah dunia, Rasulullah Saw tidak memohon kepada Allah agar musibah dunia itu tidak ada. Sebab itu akan terus ada sampai hari kiamat. Melainkan yang Beliau minta kepada Allah Swt adalah agar diberi keringanan dalam setiap bencana. Sebagaimana dalam doa-doanya:
ومِنَ اليقينِ ما تُهَوِّنُ بِهِ علَيْنَا مصائِبَ الدُّنيا.
Artinya: "Dan berikan kami keyakinan (yang kuat kepadaMu) yang bisa meringankan bagi kami musibah-musibah dunia." (HR An Nasai dan Tirmidzi).
Juga di dalam doa yang lain Beliau meminta pahala dan ganti yang terbaik bila tertimpa musibah dunia. Beliau bersabda:
"مَا مِنْ عبدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فيقولُ: إِنَّا للَّهِ وَإِنَّا إِليهِ رَاجِعُونَ: اللَّهمَّ أُجِرْنِي في مُصِيبَتي، وَاخْلُف لِي خَيْراً مِنْهَا، إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ تعَالى في مُصِيبتِهِ وَأَخْلَف لَهُ خَيْراً مِنْهَا".
Artinya: "Tidak ada seorang hamba bila ditimpa sebuah musibah, lalu dia mengucapkan innalillahi wainnaa ilaihi raaji'un, dan berdoa: "Ya Allah beri aku pahala dari musibahku, dan beri aku pengganti yang lebih baik, melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik." (HR Muslim).
Kalau kita perhatikan sejarah Rasulullah Saw dan para sahabat yang mulia, mereka semua tidak terbebas dari musibah dunia. Kelaparan, kemiskinan, peperangan, terluka dan terbunuh, bahkan wabah penyakit yang berbahaya, semuanya pernah mereka rasakan. Bahkan pernah puluhan ribu sahabat dan tabi'in wafat karena bencana wabah penyakit menular.
Adapun terkait musibah yang menimpa agama, atau fitnah yang akan merusak iman (aqidah) maka Rasulullah Saw dan para sahabat sangat berlindung kepada Allah dari itu semua. Beliau sering memohon kepada Allah agar itu jangan menimpanya. Sebab, kalau agama seseorang yang sudah rusak atau hilang, maka itu adalah sebuah kerugian yang sangat besar dan bencana yang nestapa. Sedangkan kehilangan harta dunia ataupun sekalian nyawa, itu semua masihlah ringan selama agama kita masih terjaga.
Rasulullah Saw bersabda dalam doanya yang panjang, yang sering Beliau pakai dalam mengakhiri sebuah majelis:
ولا تَجْعَلِ مُصِيبَتَنا في دينِنِا ، ولَا تَجْعَلْ الدنيا أكبرَ هَمِّنَا ، ولَا مَبْلَغَ عِلْمِنا.
Artinya: "Dan janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai ambisi kami yang terbesar, dan jangan pula menjadi harga bagi ilmu kami." (HR An Nasai dan Tirmidzi).
Jadi Beliau sangat hati-hati agar jangan agamanya yang rusak atau berkurang, sehingga hal itu yang sering menjadi permohonan Beliau kepada Allah. Karena itu, disaat kita sekarang masih didera Allah dengan (ujian) musibah yang belum berakhir, jangan sampai kita masih saja jauh dari Allah Swt. Bila teguran dari Allah begitu nyata dan terasa di depan mata, tapi kita belum juga bertaubat, belum juga meramaikan rumah Allah, belum juga merapat kepada Kitab SuciNya (Al Quran) dan petunjuk-petunjuk NabiNya (As sunnah), seaungguhnya saat ini musibah besar sedang menimpa agama kita.
 
Wallahu Al Musta'an...

20 November 2025

Quo Vadis Pejabat Publik: Mengembalikan Ruh Pelayanan dalam Kekuasaan

Quo Vadis Pejabat Publik: Mengembalikan Ruh Pelayanan dalam Kekuasaan


 

Oleh:

Mohamad Sohibul Iman

Ketua Majelis Syura PKS

 
KERUSUHAN sosial yang terjadi pada akhir Agustus 2025, seharusnya tidak dilihat sekadar sebagai gejolak spontan rakyat. Ia merupakan cerminan mendalam dari rapuhnya hubungan antara warga negara dan para pemegang kekuasaan. Di balik peristiwa tersebut tersimpan dua akar persoalan utama: kesenjangan sosial-ekonomi yang kian melebar dan perilaku koruptif serta tidak etis di kalangan elite. Kesenjangan pendapatan dan akses terhadap lahan telah menciptakan jarak struktural yang memisahkan rakyat dengan penguasa.
 
Dalam waktu yang sama, perilaku para pejabat publik yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik menambah luka kolektif masyarakat. Tidak sedikit pejabat yang kehilangan kemampuan membedakan ruang publik dan ruang privat. Mereka gemar memamerkan kekayaan (flexing) di tengah penderitaan rakyat, seolah-olah kemewahan menjadi simbol keberhasilan. Fenomena ini diperparah lemahnya sistem hukum yang gagal memberi efek jera terhadap pelaku korupsi.
 
Polarisasi sosial pun membesar  bukan hanya antara rakyat dan penguasa, tetapi juga di antara para elit sendiri.
 

Hakikat kepemimpinan: Dari Leiden sampai Khadim

Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk kembali meninjau hakikat kepemimpinan dari perspektif filosofis. Baik tradisi Barat maupun Islam sepakat bahwa memimpin berarti menanggung beban. Barat mengenal adagium “to lead is to suffer” (Leiden is Lijden) — memimpin adalah menderita. Sementara dalam tradisi Islam dikenal prinsip “Sayyidul qawm khadimuhum”  pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.
 
Ungkapan ini bukan hadis yang sahih, tetapi merupakan falsafah kepemimpinan yang hidup dalam tradisi Islam sejak masa awal, bahkan sebagian ulama menisbatkannya kepada Umar bin Khattab. Kedua pandangan ini menegaskan satu hal: pemimpin sejati adalah mereka yang bersedia menderita demi kesejahteraan orang lain. Jabatan publik bukanlah kehormatan yang patut disombongkan, melainkan tanggung jawab moral yang menuntut pengorbanan.
 
“Menderita” di sini bukan berarti hidup sengsara secara fisik, melainkan kesediaan untuk menyusahkan diri demi memudahkan orang lain.
 
Pemimpin yang benar akan mendahulukan kepentingan publik di atas kepentingan pribadinya. Ia tidak mencari kenyamanan dalam jabatan, melainkan menjadikan jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, di dunia maupun di hadapan Tuhan. 
 
Pejabat publik yang ideal bukan hanya profesional dalam bekerja, tetapi juga memiliki kesalehan moral. 
 
Seorang pejabat publik harus siap mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, bahkan hartanya untuk kepentingan masyarakat.
 
Ia harus qanaah — merasa cukup dengan apa yang diperoleh secara sah dan resmi, serta menjauhkan diri dari kerakusan terhadap harta dan fasilitas negara. Prinsip hidupnya sederhana: hidup fungsional, bukan seremonial; melayani, bukan dilayani. Kepuasan seorang pejabat publik tidak boleh diukur dari akumulasi kekayaan, fasilitas, atau status sosial yang melekat padanya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghadirkan perubahan positif bagi rakyat.
 
Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin kecil ruang privatnya; semakin besar pula tanggung jawab publik yang harus dipikul. Sayangnya, realitas kita menunjukkan arah sebaliknya. Kekuasaan sering dijadikan tameng untuk memperluas ruang privat dan memonopoli sumber daya publik. Akibatnya, muncul jurang moral yang semakin lebar antara pejabat dan rakyat. Al-Qur’an mengingatkan kita melalui Surah Ali Imran ayat 152 bahwa di antara mereka yang diberi kekuasaan, ada yang menghendaki dunia dan ada yang menghendaki akhirat.
 
Kekuasaan bukanlah anugerah yang bebas risiko; ia adalah ujian yang menguji integritas dan ketulusan niat. Dalam konteks inilah, pejabat publik diuji: apakah kekuasaan akan ia gunakan untuk memperkaya diri, atau untuk menegakkan keadilan? Apakah jabatan akan menjadi jalan menuju kemuliaan, atau menjadi sebab kehinaan moral? Kemenangan politik bukan ukuran keberhasilan seorang pemimpin.
 
Ukuran yang sesungguhnya terletak pada sejauh mana kekuasaan itu digunakan untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
 

Refleksi: Ke mana arah pejabat publik kita?

Pertanyaan mendasar yang kini perlu diajukan oleh setiap pejabat publik adalah: Quo vadis? Ke mana arah kekuasaan ini akan dibawa? Apakah ia akan terus menjadi sarana memperkaya diri dan kelompoknya, atau justru dijadikan instrumen untuk memperluas kemaslahatan rakyat? Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang mau “menderita” demi rakyat.
 
Di tengah polarisasi sosial yang kian tajam, pejabat publik dituntut untuk menghadirkan teladan moral. Mereka harus menjadi jembatan yang menghubungkan rakyat dengan negara, bukan tembok yang memisahkan keduanya.
 
Pada akhirnya, jabatan bukanlah kemuliaan yang harus dinikmati, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kekuasaan adalah ladang ujian bagi integritas dan spiritualitas seseorang. Hanya mereka yang menjadikan dirinya pelayan rakyatlah yang layak disebut pemimpin sejati. (pks.id)

09 September 2025

 Untukmu yang Memikul Amanah Dakwah

Untukmu yang Memikul Amanah Dakwah

Oleh : Satria Asmal,S.P. (Ketua DPD PKS Padang Panjang)

Amanah bagi seorang kader, ​tidak diminta, tapi tidak bisa menolak. Ketika syuro sudah memutuskan Hanya satu pilihan, laksanakan! Begitulah kita diajarkan dalam Islam ini. Karena ketaatan adalah bukti cinta dan tsiqohnya kita pada perjuangan ini.

​Kepemimpinan adalah sebuah amanah. Beban yang berat, tanggung jawab yang besar. Mungkin sebagian dari kita tak pernah meminta untuk berada di posisi ini, namun saat syura (musyawarah) telah memutuskan, tak ada pilihan lain selain menerimanya. 

Ini adalah bagian dari metode yang diajarkan dalam Islam, sebuah proses yang mengikat kita dalam ketaatan. Menerima amanah bukanlah soal ambisi pribadi, melainkan wujud kepasrahan kepada keputusan kolektif demi kebaikan bersama. 

Maka, apa yang harus kita lakukan saat amanah itu berada di pundak kita?

Langkah yang Harus Diambil

​1. Luruskan Niat

​Ini adalah pondasi utama. Pastikan bahwa niat kita memikul amanah ini semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dihormati, atau mendapatkan keuntungan duniawi. Niat yang lurus akan menjadi sumber kekuatan tak terbatas di tengah tantangan yang datang. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

​"Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

​2. Berdoa Memohon Pertolongan Allah

​Amanah dakwah terlalu berat untuk dipikul sendirian. Kita membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Panjatkan doa setiap saat, mohon agar Allah memudahkan urusan, menguatkan hati, dan melancarkan langkah kita dalam menjalankan tugas.

​"Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu." (QS. Ghafir: 60)

​3. Bangun Ukhuwah yang Kuat

​Jamaah ini hanya akan kuat jika ukhuwah (persaudaraan) kita kokoh. Hilangkan ego, jalin komunikasi yang baik, dan saling dukung satu sama lain. Kita adalah satu tubuh. Jika satu bagian sakit, yang lain turut merasakan sakitnya.

​"Orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

​4. Perbaiki Hubungan dengan Allah

​Amanah ini adalah kesempatan emas untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Perbanyak shalat sunnah, perbaiki kualitas ibadah wajib, dan perbanyak dzikir. Hati yang terhubung dengan Allah akan lebih tenang, bijaksana, dan mampu mengambil keputusan yang benar.

​"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)

​5. Bersungguh-sungguhlah dalam Menjalankan Tugas

​Setelah niat lurus dan hati terhubung dengan Allah, laksanakan tugas dengan profesionalisme dan kesungguhan. Berikan yang terbaik dari diri kita, curahkan tenaga dan pikiran, karena Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan sungguh-sungguh.

​"Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan itqan (profesional dan sungguh-sungguh)." (HR. Al-Baihaqi)

​6. Seringlah Mendengar

​Seorang pemimpin yang baik bukanlah yang paling banyak bicara, melainkan yang paling banyak mendengar. Dengarkan masukan, kritik, dan keluhan dari anggota. Dengan mendengar, kita akan memahami masalah dengan lebih baik dan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.

​7. Tetapkan Target dan Tujuan yang Jelas

​Amanah tanpa target bagaikan berjalan di kegelapan. Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis dan terukur. Ini akan menjadi panduan bagi seluruh anggota tim dan memastikan setiap langkah yang diambil memiliki makna.

​8. Maksimalkan Ikhtiar, Hebatkan Doa

​Kerja keras (ikhtiar) harus diiringi dengan doa yang tak putus. Berusaha semaksimal mungkin, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Ikhtiar adalah wujud ketaatan, sementara doa adalah wujud ketergantungan kita kepada-Nya.

​Semoga Allah menguatkan pundak kita semua dalam memikul amanah dakwah ini. Semoga Allah kumpulkan kita, para pengemban amanah, di surga-Nya kelak. Aamiin ya rabbal alamin.


PKS Foto Sumbar

[PKS Foto Sumbar][recentbylabel3]

Dakwah

[Dakwah][recentbylabel3]
Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done