Syubhat Penghafal Al-Qur’an Catatan kecil dari agenda MQW di Padang Panjang
(Dr. H. Muhammad Azzam Ismail, Lc., M.Irkh.)
Tulisan ini mungkin sedikit agak panjang. Sebenarnya, ini hanyalah catatan untuk diri sendiri. Selama agenda berlangsung, saya tidak sempat banyak mencatat karena harus bergantian dengan istri menjaga anak dan keluar-masuk mengikuti rangkaian kegiatan.
Namun, saya khawatir ibrah-ibrah yang saya dapatkan justru tercecer dan hilang begitu saja. Karena itu, saya mencoba menuliskan kembali beberapa poin yang saya tangkap, meskipun tidak dapat mengikuti seluruh taujih secara utuh.
Izinkan saya mengambil ibrah dari perspektif yang sedikit berbeda.
Ada sesuatu yang menurut saya cukup “aneh” dari mukhayyam Al-Qur’an kali ini. Agenda yang disuguhkan panitia ternyata “tidak sesuai” dengan ekspektasi sebagian orang yang sudah terbiasa mengikuti agenda serupa yang diselenggarakan di tempat lain.
Biasanya, ketika mendengar istilah mukhayyam Al-Qur’an, yang terbayang adalah sebuah agenda yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk menghafal Al-Qur’an: bagaimana bisa menghafal lebih cepat, lebih mudah, lebih banyak, dan ketika pulang kita bisa membawa “tambahan jumlah hafalan” yang membanggakan.
Namun, sejauh yang saya perhatikan, hal itu hampir tidak ditemukan dalam agenda kali ini.
Enam materi yang disampaikan Ustaz Abdul Aziz hampir tidak berbicara tentang fadhilah-fadhilah menghafal Al-Qur’an. Apalagi tentang tips dan trik cepat menghafal Al-Qur’an—materi yang biasanya menjadi salah satu bagian paling menarik bagi mereka yang ingin segera mendapatkan “label” sebagai penghafal Al-Qur’an.
Justru, setelah mengikuti dan merenungkan seluruh rangkaian materi tersebut, saya menangkap satu pesan besar:
Bahwa tujuan akhir interaksi kita dengan Al-Qur’an bukanlah sekadar melahirkan sebanyak-banyaknya penghafal Al-Qur’an. Lebih jauh dari itu, interaksi dengan Al-Qur’an seharusnya melahirkan harakah—gerakan, amal, dan gebrakan.
Dengan bahasa yang lebih sederhana, interaksi seseorang dengan Al-Qur’an seharusnya membuatnya semakin siap terjun ke medan dakwah, dalam kondisi apa pun dan dengan segala konsekuensinya.
Sebab, jika yang terjadi justru sebaliknya—semakin banyak seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi semakin sedikit interaksinya dengan jamaah, semakin jauh dari pembinaan, semakin berat untuk terlibat dalam amal, dan semakin banyak alasan untuk tidak bergerak—maka di sinilah yang disebut Ustaz Abdul Aziz sebagai “dosa syubhat”: ada sesuatu yang keliru dalam memahami tujuan interaksi kita dengan Al-Qur’an.
Mari kita coba kulik kembali enam materi yang disampaikan.
Pertama: Urgensi UPA
Materi pertama adalah tadabbur Surah Al-Jumu’ah ayat 2.
Ada penekanan tentang urgensi UPA; bahwa UPA, usrah, dan liqa’at sejatinya bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi merupakan proses pembekalan ruhiyah dan fikrah bagi para da’i agar mereka siap terjun ke medan dakwah dalam kondisi apa pun.
Lingkaran-lingkaran pembinaan itu akan menjadi sangat gersang dan kehilangan nilainya jika tilawah, tazkiyah, dan ta’lim Al-Qur’an tidak hidup di dalamnya. Karena ia adalah proses penyatuan hati.
Bukankah itu juga merupakan bagian dari agenda wajib usrah sebagaimana yang dijelaskan oleh K.H. Hasan dalam Risalah Usrah?
Artinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal secara individu. Ia harus menghidupkan lingkaran pembinaan. Ia harus menguatkan ruhiyah para kader. Ia harus membentuk pribadi yang siap bergerak. Dan ia adalah sebaik-baik bekal untuk para murabbi.
Al-Qur’an yang hidup di dada semestinya juga hidup dalam gerak langkah.
Kedua: Al-Qur’an Seharusnya Melahirkan Keyakinan terhadap Rezeki
Materi kedua berbicara tentang rezeki dan keluarga.
Rezeki dan keluarga sering kali menjadi salah satu penghalang terbesar seseorang untuk beramal. Kekhawatiran terhadap pekerjaan, bisnis, kebutuhan keluarga, dan masa depan terkadang menjadi alasan seorang akhi tidak mengikuti agenda pembinaan rutin, bahkan menjadi penghalang untuk mengikuti berbagai sarana tarbiyah lainnya.
Padahal, jika interaksi seseorang dengan Al-Qur’an tidak melahirkan keyakinan bahwa rezekinya berada dalam jaminan Allah, lalu untuk apa kisah para nabi dan rasul begitu banyak diabadikan di dalam Al-Qur’an?
Bukankah di dalamnya kita melihat manusia-manusia yang meninggalkan kenyamanan demi memenuhi amanah Allah?
Kita bahkan mendapatkan contoh nyata dari kisah perjuangan Ustaz Abdul Aziz sendiri. Dengan segala keterbatasan waktu dan dana, beliau menceritakan bagaimana perjuangannya datang ke Sumatra pada masa-masa awal dakwah ini bermula.
Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang akan hilang ketika kita bergerak, sampai lupa menghitung apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang mau berjuang.
Jika interaksi kita dengan Al-Qur’an benar-benar baik, semestinya persoalan finansial dan keluarga tidak selalu menjadi alasan untuk menjauh dari agenda-agenda harakah.
Ketiga: Al-Qur’an Mengajarkan Kita Meninggalkan Jejak, Bukan Mencari Pengakuan
Materi ketiga adalah tadabbur Surah Az-Zalzalah.
Tentang bumi yang kelak akan menceritakan segala sesuatu. Tidak ada yang terlalu kecil untuk dicatat. Tidak ada amal yang benar-benar hilang.
Yang kecil akan disebutkan. Apalagi yang besar.
Di sinilah saya teringat pembahasan Buya Hasan tentang faktor-faktor yang dapat merusak keikhlasan pada Rukun Kedua.
Semestinya perkara seperti harta, prestise, kedudukan, pujian, kemajuan, ataupun kemunduran sudah mulai selesai bagi seorang penghafal Al-Qur’an.
Lalu mengapa amal-amal kecil justru penting?
Karena amal kecil sering kali tidak bisa direimburse kepada bendahara. Tidak ada apresiasi. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang tahu. Bahkan terkadang amal itu tidak cukup besar untuk menjadi alasan seseorang naik marhalah.
Namun justru di sinilah keikhlasan diuji.
Maukah kita tetap bekerja ketika tidak ada yang melihat?
Maukah kita tetap hadir ketika tidak ada yang memberikan penghargaan?
Maukah kita tetap berkorban ketika justru yang kita dapatkan adalah teguran?
Bahkan lebih berat lagi, ketika amal itu membuat kita mengalami kemunduran: karier terancam, bisnis tidak stabil, waktu istirahat berkurang, atau agenda pribadi harus dikorbankan.
Orang yang baik interaksinya dengan Al-Qur’an seharusnya tidak mudah terjebak dalam kalkulasi seperti itu.
Sebab ia tahu bahwa para nabi dan rasul mempertaruhkan jauh lebih besar.
Ada yang mempertaruhkan harta, ada yang mempertaruhkan kedudukan, ada yang terusir dari kampung halaman. Dan tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa.
Maka bagaimana mungkin penghafal Al-Qur’an menjadikan karier yang sedikit terganggu, bisnis yang tertunda, atau benturan agenda sebagai alasan untuk berhenti bergerak?
Keempat: Al-Qur’an Menghadirkan Sakinah dalam Perjalanan Dakwah
Materi keempat berbicara tentang sakinah.
Saya yakin, ini salah satu poin yang paling banyak menempel di kepala.
Agenda-agenda UPA, proses dakwah yang kita jalani, dan perjalanan pembinaan akan terasa kering, panjang, bahkan menyesakkan jika miskin dari agenda Al-Qur’an. Kita bersyukur dalam lima tahun ini kita diasingkan dengan kontestasi politik, tidak ada cara paling mudah untuk menjadikan UPA itu kembali dirindukan kecuali ketika ia bisa menghadirkan sakinah.
Dan ketika para murabbi dan nuqaba’ mampu menghadirkan Al-Qur’an dalam lingkaran-lingkaran pembinaan, yang hadir bukan hanya rasa nyaman. Lebih dari itu, Al-Qur’an menjadi pemicu turunnya rahmat Allah.
Agenda-agenda yang sebelumnya terasa berat perlahan berubah menjadi penggugur dosa.
Pertemuan yang sebelumnya terasa sebagai kewajiban berubah menjadi kebutuhan.
Lingkaran pembinaan yang sebelumnya terasa melelahkan justru mulai dirindukan.
Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan, “Saya belum siap membina.”
Yang diperlukan adalah memperkuat ruhiyah dengan Al-Qur’an.
Hidupkan Al-Qur’an dalam usrah. Bicarakan Al-Qur’an. Tadabburi Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an sebaik-baik sumber kekuatan.
Sebab ketika Al-Qur’an hadir, perjalanan dakwah yang panjang tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai perjalanan yang menghadirkan kenyamanan.
Kelima: Al-Qur’an Membuat Kita Siap Memikul Amanah
Materi kelima berbicara tentang doa Nabi Musa ‘alaihissalām dan segala kendala yang beliau hadapi ketika hendak menjalankan amanah dakwah.
Nabi Musa tidak meminta kepada Allah agar dibebaskan dari amanah.
Beliau tidak mengatakan bahwa tugas itu terlalu berat.
Beliau tidak meminta agar dakwah tersebut diberikan kepada orang lain.
Beliau justru berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25–26)
Nabi Musa meminta agar hatinya dilapangkan untuk memikul amanah.
Maka terasa aneh jika seorang penghafal Al-Qur’an justru tidak siap membina.
Lebih aneh lagi jika alasannya adalah karena “berbenturan dengan agenda Al-Qur’an”.
Bukankah Nabi Musa sendiri memiliki begitu banyak alasan untuk merasa tidak siap?
Beliau adalah seorang buronan. Memiliki keterbatasan dalam public speaking. Beliau harus berhadapan dengan Firaun. Bahkan beliau harus mendakwahi orang yang pernah menjadi ayah angkatnya, yang sejak kecil menyediakan fasilitas kehidupan untuknya.
Namun semua itu tidak membuat beliau meminta untuk mundur.
Jika kita memberikan alasan bahwa Nabi Musa diberikan mukjizat untuk mendakwahi Firaun seperti tongkat yang bisa berubah jadi ular, tangan yang bisa berkilau; bukankah Allah juga memberikan hal yang sama kepada kita? Bahkan lebih baik; Al-Qur’an yang menjadi sebaik-baik mukjizat yang tidak akan pernah lekang oleh zaman.
Keenam: Dakwah Adalah Pilihan untuk Berjanji dan Bersedia Berlelah-lelah
Materi terakhir adalah tentang dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalām.
Pada akhirnya, dakwah ini adalah sebuah pilihan. Nabi Nuh menegaskan, “Apakah kami akan seret kalian pada bukti ini sedangkan kalian terpaksa?”
Tidak ada yang akan memaksa. Tidak ada yang akan menyeret-nyeret. Kitalah yang memilih untuk bermu’ahadah.
Kitalah yang memilih untuk berkomitmen.
Dan kitalah yang memilih apakah siap berlelah-lelah di jalan dakwah atau tidak.
Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mencintai jalan ini.
Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk bertahan.
Namun ketika kita sudah mengucapkan janji, maka kita harus bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita benar-benar memahami konsekuensi dari janji tersebut?
Dari seluruh materi tersebut, saya menangkap satu kesimpulan:
Interaksi kita dengan Al-Qur’an pada akhirnya bukan sekadar untuk menjadikan kita penghafal Al-Qur’an.
Tujuan yang lebih besar adalah agar Al-Qur’an melahirkan manusia yang siap turun ke medan amal, siap berkontribusi, dan siap memberikan sebanyak mungkin untuk dakwah.
Berjuanglah untuk menghafal Al-Qur’an, agar kita selalu punya bekal yang bisa di-recharge di mana pun kita berada untuk siap turun bertempur dalam medan amal.
Tetapi jangan sampai sarana berubah menjadi tujuan.
Jangan sampai seorang penghafal Al-Qur’an menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mengejar riwayat ini dan itu, sanad ini dan itu, lalu menghabiskan energi untuk berdebat tentang tajwid dan makharijul huruf, sementara di sisi lain ia kehilangan waktu untuk membina, berdakwah, dan beramal. Bahkan memilih untuk tidak berkecimpung dengan medan amal dengan alasan bahwa “saya ingin fokus dengan Al-Qur’an”.
Sebab pada akhirnya, kita perlu bertanya:
Jika kemuliaan Al-Qur’an hanya ada pada hafalan, maka bukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang akan ditunjuk Rasul sebagai imam pengganti, karena ia tidak termasuk satu dari enam guru Al-Qur’an yang tervalidasi bacaannya.
Maka ukuran kemuliaan seseorang bukan semata-mata seberapa banyak hafalannya, tetapi juga sejauh mana Al-Qur’an membentuk dirinya menjadi pribadi yang siap memikul amanah.
Ada satu hal terakhir yang juga menarik untuk direnungkan.
Ternyata agenda amal kita bisa jauh lebih banyak daripada agenda menghafal Al-Qur’an.
Durasi qiyam selama dua hari kurang lebih mencapai enam jam—bahkan lebih lama daripada durasi halaqah bersama musyrif dan musyrifah.
Mengapa?
Karena pada akhirnya, tempat tasmi’ terbaik adalah di hadapan Pemilik kalam itu sendiri.
Salat adalah salah satu tempat terbaik untuk memperdengarkan hafalan kita kepada Allah. Interaksi kita dengan Al-Qur’an menuntut amal, dan amal pertama serta tempat terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah di dalam salat.
Jangan sampai kita mampu menyelesaikan sekian juz dalam satu kali duduk, tetapi tidak mampu berdiri lama di hadapan Allah.
Dan di penghujung kegiatan, kita menyaksikan Ustaz Abdul Aziz tetap menyampaikan materi dari kamar dalam kondisi sakit.
Al-Qur’an memberikan kekuatan kepada ruh, bahkan ketika tubuh sudah tidak mau lagi berkompromi.
Ini bukan tentang fisik yang tidak mampu, tapi tentang seberapa kenyangnya hati. Karena hatilah rajanya tubuh.
Maka syubhat yang harus kita antisipasi adalah merasa sudah dekat dengan Al-Qur’an, padahal semakin jauh dari amal. Tidak siap berjamaah, apalagi berharakah.
Merasa sudah banyak menghafal Al-Qur’an, padahal semakin berat memikul amanah.
Merasa sibuk menjaga hafalan, padahal sebenarnya sedang kehilangan ruh dari hafalan itu sendiri.
Merasa sedang menjaga Al-Qur’an, padahal tanpa sadar Al-Qur’an sedang kehilangan pengaruhnya terhadap kehidupan kita.
Sebab Al-Qur’an yang benar-benar hidup bukan hanya Al-Qur’an yang memenuhi dada.
Ia adalah Al-Qur’an yang menggerakkan langkah.
Ia membuat seseorang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih berani, lebih siap berkorban, lebih ringan membantu, lebih kuat membina, lebih tahan menghadapi ujian, dan lebih siap mengatakan: “Saya siap berada di mana pun Allah membutuhkan saya.”
Maka, jika setiap DPD dituntut untuk membuat daurah murabbi, barangkali tidak ada agenda yang lebih baik daripada menyiapkan murabbi-murabbi Qur’ani.
Murabbi yang bukan hanya hafal Al-Qur’an, tetapi hidup dengan Al-Qur’an.
Murabbi yang bukan hanya mampu mentasmi’kan Al-Qur’an, tetapi mampu membuat orang lain mencintai Al-Qur’an.
Karena pada akhirnya, kita tidak sedang menyiapkan sekadar penghafal Al-Qur’an. Kita sedang menyiapkan generasi yang digerakkan oleh Al-Qur’an untuk siap beramal.
Wallahu a‘lam.

