PKS Sumbar: Opini
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

07 September 2026

 Syubhat Penghafal Al-Qur’an Catatan kecil dari agenda MQW di Padang Panjang

Syubhat Penghafal Al-Qur’an Catatan kecil dari agenda MQW di Padang Panjang


(Dr. H. Muhammad Azzam Ismail, Lc., M.Irkh.)

Tulisan ini mungkin sedikit agak panjang. Sebenarnya, ini hanyalah catatan untuk diri sendiri. Selama agenda berlangsung, saya tidak sempat banyak mencatat karena harus bergantian dengan istri menjaga anak dan keluar-masuk mengikuti rangkaian kegiatan.

Namun, saya khawatir ibrah-ibrah yang saya dapatkan justru tercecer dan hilang begitu saja. Karena itu, saya mencoba menuliskan kembali beberapa poin yang saya tangkap, meskipun tidak dapat mengikuti seluruh taujih secara utuh.

Izinkan saya mengambil ibrah dari perspektif yang sedikit berbeda.

Ada sesuatu yang menurut saya cukup “aneh” dari mukhayyam Al-Qur’an kali ini. Agenda yang disuguhkan panitia ternyata “tidak sesuai” dengan ekspektasi sebagian orang yang sudah terbiasa mengikuti agenda serupa yang diselenggarakan di tempat lain.

Biasanya, ketika mendengar istilah mukhayyam Al-Qur’an, yang terbayang adalah sebuah agenda yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk menghafal Al-Qur’an: bagaimana bisa menghafal lebih cepat, lebih mudah, lebih banyak, dan ketika pulang kita bisa membawa “tambahan jumlah hafalan” yang membanggakan.

Namun, sejauh yang saya perhatikan, hal itu hampir tidak ditemukan dalam agenda kali ini.

Enam materi yang disampaikan Ustaz Abdul Aziz hampir tidak berbicara tentang fadhilah-fadhilah menghafal Al-Qur’an. Apalagi tentang tips dan trik cepat menghafal Al-Qur’an—materi yang biasanya menjadi salah satu bagian paling menarik bagi mereka yang ingin segera mendapatkan “label” sebagai penghafal Al-Qur’an.

Justru, setelah mengikuti dan merenungkan seluruh rangkaian materi tersebut, saya menangkap satu pesan besar:

Bahwa tujuan akhir interaksi kita dengan Al-Qur’an bukanlah sekadar melahirkan sebanyak-banyaknya penghafal Al-Qur’an. Lebih jauh dari itu, interaksi dengan Al-Qur’an seharusnya melahirkan harakah—gerakan, amal, dan gebrakan.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, interaksi seseorang dengan Al-Qur’an seharusnya membuatnya semakin siap terjun ke medan dakwah, dalam kondisi apa pun dan dengan segala konsekuensinya.

Sebab, jika yang terjadi justru sebaliknya—semakin banyak seseorang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi semakin sedikit interaksinya dengan jamaah, semakin jauh dari pembinaan, semakin berat untuk terlibat dalam amal, dan semakin banyak alasan untuk tidak bergerak—maka di sinilah yang disebut Ustaz Abdul Aziz sebagai “dosa syubhat”: ada sesuatu yang keliru dalam memahami tujuan interaksi kita dengan Al-Qur’an.

Mari kita coba kulik kembali enam materi yang disampaikan.

Pertama: Urgensi UPA

Materi pertama adalah tadabbur Surah Al-Jumu’ah ayat 2.

Ada penekanan tentang urgensi UPA; bahwa UPA, usrah, dan liqa’at sejatinya bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi merupakan proses pembekalan ruhiyah dan fikrah bagi para da’i agar mereka siap terjun ke medan dakwah dalam kondisi apa pun.

Lingkaran-lingkaran pembinaan itu akan menjadi sangat gersang dan kehilangan nilainya jika tilawah, tazkiyah, dan ta’lim Al-Qur’an tidak hidup di dalamnya. Karena ia adalah proses penyatuan hati.

Bukankah itu juga merupakan bagian dari agenda wajib usrah sebagaimana yang dijelaskan oleh K.H. Hasan dalam Risalah Usrah?

Artinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal secara individu. Ia harus menghidupkan lingkaran pembinaan. Ia harus menguatkan ruhiyah para kader. Ia harus membentuk pribadi yang siap bergerak. Dan ia adalah sebaik-baik bekal untuk para murabbi.

Al-Qur’an yang hidup di dada semestinya juga hidup dalam gerak langkah.

Kedua: Al-Qur’an Seharusnya Melahirkan Keyakinan terhadap Rezeki

Materi kedua berbicara tentang rezeki dan keluarga.

Rezeki dan keluarga sering kali menjadi salah satu penghalang terbesar seseorang untuk beramal. Kekhawatiran terhadap pekerjaan, bisnis, kebutuhan keluarga, dan masa depan terkadang menjadi alasan seorang akhi tidak mengikuti agenda pembinaan rutin, bahkan menjadi penghalang untuk mengikuti berbagai sarana tarbiyah lainnya.

Padahal, jika interaksi seseorang dengan Al-Qur’an tidak melahirkan keyakinan bahwa rezekinya berada dalam jaminan Allah, lalu untuk apa kisah para nabi dan rasul begitu banyak diabadikan di dalam Al-Qur’an?

Bukankah di dalamnya kita melihat manusia-manusia yang meninggalkan kenyamanan demi memenuhi amanah Allah?

Kita bahkan mendapatkan contoh nyata dari kisah perjuangan Ustaz Abdul Aziz sendiri. Dengan segala keterbatasan waktu dan dana, beliau menceritakan bagaimana perjuangannya datang ke Sumatra pada masa-masa awal dakwah ini bermula.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung apa yang akan hilang ketika kita bergerak, sampai lupa menghitung apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang mau berjuang.

Jika interaksi kita dengan Al-Qur’an benar-benar baik, semestinya persoalan finansial dan keluarga tidak selalu menjadi alasan untuk menjauh dari agenda-agenda harakah.

Ketiga: Al-Qur’an Mengajarkan Kita Meninggalkan Jejak, Bukan Mencari Pengakuan

Materi ketiga adalah tadabbur Surah Az-Zalzalah.

Tentang bumi yang kelak akan menceritakan segala sesuatu. Tidak ada yang terlalu kecil untuk dicatat. Tidak ada amal yang benar-benar hilang.

Yang kecil akan disebutkan. Apalagi yang besar.

Di sinilah saya teringat pembahasan Buya Hasan tentang faktor-faktor yang dapat merusak keikhlasan pada Rukun Kedua.

Semestinya perkara seperti harta, prestise, kedudukan, pujian, kemajuan, ataupun kemunduran sudah mulai selesai bagi seorang penghafal Al-Qur’an.

Lalu mengapa amal-amal kecil justru penting?

Karena amal kecil sering kali tidak bisa direimburse kepada bendahara. Tidak ada apresiasi. Tidak ada yang memuji. Tidak ada yang tahu. Bahkan terkadang amal itu tidak cukup besar untuk menjadi alasan seseorang naik marhalah.

Namun justru di sinilah keikhlasan diuji.

Maukah kita tetap bekerja ketika tidak ada yang melihat?

Maukah kita tetap hadir ketika tidak ada yang memberikan penghargaan?

Maukah kita tetap berkorban ketika justru yang kita dapatkan adalah teguran?

Bahkan lebih berat lagi, ketika amal itu membuat kita mengalami kemunduran: karier terancam, bisnis tidak stabil, waktu istirahat berkurang, atau agenda pribadi harus dikorbankan.

Orang yang baik interaksinya dengan Al-Qur’an seharusnya tidak mudah terjebak dalam kalkulasi seperti itu.

Sebab ia tahu bahwa para nabi dan rasul mempertaruhkan jauh lebih besar.

Ada yang mempertaruhkan harta, ada yang mempertaruhkan kedudukan, ada yang terusir dari kampung halaman. Dan tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa.

Maka bagaimana mungkin penghafal Al-Qur’an menjadikan karier yang sedikit terganggu, bisnis yang tertunda, atau benturan agenda sebagai alasan untuk berhenti bergerak?

Keempat: Al-Qur’an Menghadirkan Sakinah dalam Perjalanan Dakwah

Materi keempat berbicara tentang sakinah.

Saya yakin, ini salah satu poin yang paling banyak menempel di kepala.

Agenda-agenda UPA, proses dakwah yang kita jalani, dan perjalanan pembinaan akan terasa kering, panjang, bahkan menyesakkan jika miskin dari agenda Al-Qur’an. Kita bersyukur dalam lima tahun ini kita diasingkan dengan kontestasi politik, tidak ada cara paling mudah untuk menjadikan UPA itu kembali dirindukan kecuali ketika ia bisa menghadirkan sakinah.

Dan ketika para murabbi dan nuqaba’ mampu menghadirkan Al-Qur’an dalam lingkaran-lingkaran pembinaan, yang hadir bukan hanya rasa nyaman. Lebih dari itu, Al-Qur’an menjadi pemicu turunnya rahmat Allah.

Agenda-agenda yang sebelumnya terasa berat perlahan berubah menjadi penggugur dosa.

Pertemuan yang sebelumnya terasa sebagai kewajiban berubah menjadi kebutuhan.

Lingkaran pembinaan yang sebelumnya terasa melelahkan justru mulai dirindukan.

Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan, “Saya belum siap membina.”

Yang diperlukan adalah memperkuat ruhiyah dengan Al-Qur’an.

Hidupkan Al-Qur’an dalam usrah. Bicarakan Al-Qur’an. Tadabburi Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an sebaik-baik sumber kekuatan.

Sebab ketika Al-Qur’an hadir, perjalanan dakwah yang panjang tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi sebagai perjalanan yang menghadirkan kenyamanan.

Kelima: Al-Qur’an Membuat Kita Siap Memikul Amanah

Materi kelima berbicara tentang doa Nabi Musa ‘alaihissalām dan segala kendala yang beliau hadapi ketika hendak menjalankan amanah dakwah.

Nabi Musa tidak meminta kepada Allah agar dibebaskan dari amanah.

Beliau tidak mengatakan bahwa tugas itu terlalu berat.

Beliau tidak meminta agar dakwah tersebut diberikan kepada orang lain.

Beliau justru berdoa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ۝ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.” (QS. Taha: 25–26)

Nabi Musa meminta agar hatinya dilapangkan untuk memikul amanah.

Maka terasa aneh jika seorang penghafal Al-Qur’an justru tidak siap membina.

Lebih aneh lagi jika alasannya adalah karena “berbenturan dengan agenda Al-Qur’an”.

Bukankah Nabi Musa sendiri memiliki begitu banyak alasan untuk merasa tidak siap?

Beliau adalah seorang buronan. Memiliki keterbatasan dalam public speaking. Beliau harus berhadapan dengan Firaun. Bahkan beliau harus mendakwahi orang yang pernah menjadi ayah angkatnya, yang sejak kecil menyediakan fasilitas kehidupan untuknya.

Namun semua itu tidak membuat beliau meminta untuk mundur.

Jika kita memberikan alasan bahwa Nabi Musa diberikan mukjizat untuk mendakwahi Firaun seperti tongkat yang bisa berubah jadi ular, tangan yang bisa berkilau; bukankah Allah juga memberikan hal yang sama kepada kita? Bahkan lebih baik; Al-Qur’an yang menjadi sebaik-baik mukjizat yang tidak akan pernah lekang oleh zaman.

Keenam: Dakwah Adalah Pilihan untuk Berjanji dan Bersedia Berlelah-lelah

Materi terakhir adalah tentang dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalām.

Pada akhirnya, dakwah ini adalah sebuah pilihan. Nabi Nuh menegaskan, “Apakah kami akan seret kalian pada bukti ini sedangkan kalian terpaksa?”

Tidak ada yang akan memaksa. Tidak ada yang akan menyeret-nyeret. Kitalah yang memilih untuk bermu’ahadah.

Kitalah yang memilih untuk berkomitmen.

Dan kitalah yang memilih apakah siap berlelah-lelah di jalan dakwah atau tidak.

Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk mencintai jalan ini.

Tidak ada yang bisa memaksa seseorang untuk bertahan.

Namun ketika kita sudah mengucapkan janji, maka kita harus bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita benar-benar memahami konsekuensi dari janji tersebut?

Dari seluruh materi tersebut, saya menangkap satu kesimpulan:

Interaksi kita dengan Al-Qur’an pada akhirnya bukan sekadar untuk menjadikan kita penghafal Al-Qur’an.

Tujuan yang lebih besar adalah agar Al-Qur’an melahirkan manusia yang siap turun ke medan amal, siap berkontribusi, dan siap memberikan sebanyak mungkin untuk dakwah.

Berjuanglah untuk menghafal Al-Qur’an, agar kita selalu punya bekal yang bisa di-recharge di mana pun kita berada untuk siap turun bertempur dalam medan amal.

Tetapi jangan sampai sarana berubah menjadi tujuan.

Jangan sampai seorang penghafal Al-Qur’an menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk mengejar riwayat ini dan itu, sanad ini dan itu, lalu menghabiskan energi untuk berdebat tentang tajwid dan makharijul huruf, sementara di sisi lain ia kehilangan waktu untuk membina, berdakwah, dan beramal. Bahkan memilih untuk tidak berkecimpung dengan medan amal dengan alasan bahwa “saya ingin fokus dengan Al-Qur’an”.

Sebab pada akhirnya, kita perlu bertanya:

Jika kemuliaan Al-Qur’an hanya ada pada hafalan, maka bukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang akan ditunjuk Rasul sebagai imam pengganti, karena ia tidak termasuk satu dari enam guru Al-Qur’an yang tervalidasi bacaannya.

Maka ukuran kemuliaan seseorang bukan semata-mata seberapa banyak hafalannya, tetapi juga sejauh mana Al-Qur’an membentuk dirinya menjadi pribadi yang siap memikul amanah.

Ada satu hal terakhir yang juga menarik untuk direnungkan.

Ternyata agenda amal kita bisa jauh lebih banyak daripada agenda menghafal Al-Qur’an.

Durasi qiyam selama dua hari kurang lebih mencapai enam jam—bahkan lebih lama daripada durasi halaqah bersama musyrif dan musyrifah.

Mengapa?

Karena pada akhirnya, tempat tasmi’ terbaik adalah di hadapan Pemilik kalam itu sendiri.

Salat adalah salah satu tempat terbaik untuk memperdengarkan hafalan kita kepada Allah. Interaksi kita dengan Al-Qur’an menuntut amal, dan amal pertama serta tempat terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah di dalam salat.

Jangan sampai kita mampu menyelesaikan sekian juz dalam satu kali duduk, tetapi tidak mampu berdiri lama di hadapan Allah.

Dan di penghujung kegiatan, kita menyaksikan Ustaz Abdul Aziz tetap menyampaikan materi dari kamar dalam kondisi sakit.

Al-Qur’an memberikan kekuatan kepada ruh, bahkan ketika tubuh sudah tidak mau lagi berkompromi.

Ini bukan tentang fisik yang tidak mampu, tapi tentang seberapa kenyangnya hati. Karena hatilah rajanya tubuh.

Maka syubhat yang harus kita antisipasi adalah merasa sudah dekat dengan Al-Qur’an, padahal semakin jauh dari amal. Tidak siap berjamaah, apalagi berharakah.

Merasa sudah banyak menghafal Al-Qur’an, padahal semakin berat memikul amanah.

Merasa sibuk menjaga hafalan, padahal sebenarnya sedang kehilangan ruh dari hafalan itu sendiri.

Merasa sedang menjaga Al-Qur’an, padahal tanpa sadar Al-Qur’an sedang kehilangan pengaruhnya terhadap kehidupan kita.

Sebab Al-Qur’an yang benar-benar hidup bukan hanya Al-Qur’an yang memenuhi dada.

Ia adalah Al-Qur’an yang menggerakkan langkah.

Ia membuat seseorang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih berani, lebih siap berkorban, lebih ringan membantu, lebih kuat membina, lebih tahan menghadapi ujian, dan lebih siap mengatakan: “Saya siap berada di mana pun Allah membutuhkan saya.”

Maka, jika setiap DPD dituntut untuk membuat daurah murabbi, barangkali tidak ada agenda yang lebih baik daripada menyiapkan murabbi-murabbi Qur’ani.

Murabbi yang bukan hanya hafal Al-Qur’an, tetapi hidup dengan Al-Qur’an.

Murabbi yang bukan hanya mampu mentasmi’kan Al-Qur’an, tetapi mampu membuat orang lain mencintai Al-Qur’an.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang menyiapkan sekadar penghafal Al-Qur’an. Kita sedang menyiapkan generasi yang digerakkan oleh Al-Qur’an untuk siap beramal.

Wallahu a‘lam.

10 Desember 2025

Tangis Sumatera Makin Dalam: 914 Jiwa Melayang, Ratusan Hilang, Saatnya Segera Tetapkan Status Bencana Nasional

Tangis Sumatera Makin Dalam: 914 Jiwa Melayang, Ratusan Hilang, Saatnya Segera Tetapkan Status Bencana Nasional


Oleh:
Hj. Nevi Zuairina

Anggota DPR RI Dapil Sumbar II
Pembina Istri Pimpinan Daerah, Bidang Pembinaan Pejabat Publik, DPP PKS

Bumi Sumatera sedang berduka. Dalam sekejap saja, air bah, lumpur, dan longsor menerjang kampung-kampung, menghapus jejak-jejak kehidupan yang selama bertahun-tahun dibangun warga dengan jerih payah. Sungai yang dulu menghidupi, tiba-tiba berubah menjadi arus kematian. Dan langit yang selalu menjadi peneduh, kini seperti menumpahkan seluruh air mata yang tak sanggup lagi ditahan oleh bumi. 

Hingga Sabtu, 6 Desember 2025, BNPB melaporkan bahwa 914 jiwa telah meninggal dunia, sementara 389 jiwa lainnya masih hilang, belum kembali ke pelukan keluarga yang menunggu dalam cemas dan harap yang semakin tipis. Sumatera Barat kehilangan 226 jiwa, Sumatera Utara 329 jiwa, dan Aceh 359 jiwa. Angka-angka itu dingin, tetapi di baliknya ada wajah, ada nama, ada cerita, ada masa depan yang terputus begitu saja.

Korban yang jatuh bukan hanya angka pada tabel atau grafik. Mereka adalah ayah yang setiap pagi berangkat ke sawah, ibu yang menanak nasi untuk anak-anaknya, kakek-nenek yang menjaga cucu-cucu kecil mereka, anak-anak yang baru saja belajar membaca dengan mata penuh mimpi. 

Kini, banyak di antara mereka yang tubuhnya masih tertimbun lumpur, atau hanyut entah ke mana. Sementara keluarga yang selamat, memegang erat foto-foto kusam, berharap satu kabar baik di tengah rentetan kabar buruk. Di berbagai titik pengungsian, ribuan orang terkantuk di lantai dingin, banyak yang tak punya apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di badan. Sumatera seperti kehilangan suaranya, ditelan gemuruh banjir dan isak tangis warganya.

Bencana ini seolah menunjukan sebuah kisah tentang alam yang murka. Cuaca ekstrem akibat Cyclone Senyar memang menjadi pemicu, tetapi sesungguhnya kita telah lama melihat tanda-tanda bahwa keseimbangan alam di Sumatera semakin rapuh. 

Hutan yang ditebangi tanpa kendali, alih fungsi lahan yang tak memperhatikan daya dukung lingkungan, penataan daerah aliran sungai yang tak pernah benar-benar dituntaskan, semua itu adalah sejarah panjang yang kini meminta pertanggungjawaban. Air yang turun dari langit seharusnya menjadi berkah, tetapi karena bumi tak lagi memiliki cukup akar untuk menahannya, ia berubah menjadi bencana. Alam berbicara, dan kita selama ini tak cukup mendengarkan.

Kini, saat duka menggelayut di langit Sumatera, kita tak boleh hanya meratap. Kita harus tegas dan jujur mengakui bahwa skala bencana ini tidak dapat ditangani dengan pendekatan biasa. Dengan korban tewas ratusan jiwa, ratusan hilang, ribuan rumah hancur, dan kerugian yang mencapai puluhan triliun rupiah, ini bukan lagi tragedi daerah. 

Ini adalah tragedi bangsa. Status Bencana Nasional bukan sekadar payung hukum, tetapi bentuk pengakuan bahwa negara hadir penuh dan totalitas, bahwa semua kekuatan yang kita miliki, dari pusat hingga daerah, dari pemerintah hingga masyarakat, digunakan tanpa ragu demi menyelamatkan dan memulihkan.

Penetapan bencana nasional akan membuka akses sumber daya yang jauh lebih besar: personel SAR tambahan, dukungan logistik lintas provinsi, percepatan pembangunan infrastruktur darurat, serta konsolidasi yang lebih efektif antara BNPB, Kementerian, TNI-Polri, dan relawan. 

Yang paling penting, status ini memberi pesan kuat bahwa kita memprioritaskan keselamatan manusia di atas segalanya. Indonesia bukan negeri yang pasrah pada bencana. Indonesia adalah negeri yang kuat, tetapi kekuatan itu harus dimobilisasi setara dengan besarnya ancaman.

Namun di tengah semua kerusakan itu, saya juga melihat sesuatu yang menenangkan: solidaritas. Di Aceh, orang-orang membuka pintu rumah yang masih utuh untuk menampung tetangga. Di Sumatera Utara, warga bergotong royong membuat dapur umum sederhana dari bahan seadanya. Di Sumbar, relawan dari berbagai daerah berdatangan, membawa makanan, obat, pakaian, dan pelukan hangat. Bangsa ini mungkin sering berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi dalam duka seperti ini, kita kembali menemukan siapa diri kita, sebuah keluarga besar yang selalu bergerak bersama ketika ada saudara yang terluka.

Kita perlu membangun kembali bukan hanya rumah dan jembatan, tetapi juga keyakinan bahwa bencana dapat dicegah atau setidaknya dikurangi dampaknya melalui tata kelola lingkungan yang lebih bijaksana. Kita perlu menanam lebih banyak pohon, menjaga kawasan hutan yang tersisa, memperbaiki tata ruang, dan memastikan setiap kebijakan pembangunan tidak mengorbankan keselamatan warga. Alam harus kita perlakukan sebagai sahabat, bukan ladang eksploitasi tanpa batas. 

Jika kita melukai alam, pada akhirnya alam pula yang memulangkan luka itu dalam bentuk bencana.

Sebagai wakil rakyat dari Dapil Sumbar II, saya membawa suara tangisan para ibu yang kehilangan anaknya, suara para petani yang kehilangan ladang, suara para pengungsi yang kehilangan rumah. Saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana namun mendesak: Sumatera memanggil, dan kita semua harus menjawabnya. 

Pemerintah harus segera menetapkan status Bencana Nasional, mempercepat penanganan darurat, dan memastikan pemulihan jangka panjang dilakukan secara adil dan menyeluruh.

Sumatera sedang menangis, tetapi kita tidak boleh membiarkannya menangis sendirian. Kita harus hadir, seutuhnya, setulusnya, sehormat-hormatnya, karena setiap nyawa adalah amanah, dan setiap tangis adalah panggilan untuk bertindak. Semoga Allah menguatkan mereka yang sedang diuji, dan menguatkan kita semua untuk berdiri bersama hingga Sumatera kembali tersenyum.

02 Juni 2025

EMPATI UNTUK YANG BATAL BERANGKAT HAJI

EMPATI UNTUK YANG BATAL BERANGKAT HAJI


Kabarnya yang berhaji jalur Furoda tidak ada yang bisa berangkat karena visa haji mereka tidak keluar sama sekali. Saya pribadi ikut berempati dengan mereka yang tidak jadi berangkat haji ini. Saya berdoa semoga tahun depan Allah mudahkan bagi mereka untuk berhaji.

Ada narasi yang muncul yang mengesankan kalau kejadian ini menunjukkan bahwa Allah tidak meredhai mereka berangkat. Atau bahasa lainnya, langit belum berkehendak. Terkesan pula ada yang "senang" mereka tidak berangkat. Haji itu gak bisa dibeli dengan uang. Dan kalimat-kalimat lainnya.

Saya pribadi tidak setuju dengan narasi-narasi dan penggiringan opini seperti itu. Seolah-olah bersyukur orang lain dapat musibah. Sebagai orang beriman, kita tetap harus berempati bila ada muslim yang lain tertimpa musibah atau mengalami hal yang tidak menyenangkan.

Tidak semua yang bisa berangkat haji dan sudah sampai di tanah suci, berarti mereka sudah diredhai Allah. Itu urusan Allah dan gak usah pula kita ambil alih. Dan tidak semua yang selesai berhaji akan memperoleh haji mabrur. Bahkan boleh jadi yang tidak mabrur yang malah lebih banyak. Buktinya, lihat saja ibadah dan akhlaknya sepulang haji, apakah semakin membaik atau tidak? Waktu pergi haji dia masih merokok, pulang dari haji masih tetap saja merokok. Pergi haji uangnya masih disimpan di bank riba. Pulang haji juga gak berubah. Dan banyak contoh-contoh lainnya.

Sebaliknya, orang yang sudah menyiapkan diri untuk berhaji, sudah membayar ongkosnya lunas. Lalu tidak jadi berangkat sama sekali karena faktor-faktor lain. Maka bila dia ikhlas dan tulus karena Allah, dia bisa mendapatkan pahala haji secara sempurna. Lagi-lagi itu urusan Allah. Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niat. Dan Allah akan memberi balasan sesuai dengan niat hambaNya.

Oh dia pergi haji karena punya uang ratusan juta atau bahkan milyaran, lha itu gak ada urusan. Pergi haji itu memang wajibnya bagi yang mampu, bukan bagi yang mau. Bila dia mampu bayar 300 atau 400 juta, lalu bisa langsung berangkat tanpa antri, ya silakan saja. Alhamdulillah uang dia gunakan untuk berhaji (beribadah) bukan berjudi. Jangan kita cemburu apalagi dengki. 

Apalagi haji Furoda itu selama ini dilegalkan oleh pemerintah dan juga Kerajaan Saudi. Bukan pendatang haram atau illegal. Maka sebaiknya, bila ada saudara kita terpilih berangkat haji, kita bahagia dan bersyukur. Bila sebaliknya, ada yang batal atau terkendala, kita doakan kebaikan baginya.

Catatan, saya bukan pengelola travel haji furoda, gak ada pula saudara atau kerabat saya yang masuk terkena pembatalan ini. Saya hanya ikut berempati kepada mereka. Allahu Waliyyut taufiq.

Ditulis oleh Irsyad Syafar

PKS Foto Sumbar

[PKS Foto Sumbar][recentbylabel3]

Dakwah

[Dakwah][recentbylabel3]
Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done