PKS Sumbar: Kepala Daerah
Tampilkan postingan dengan label Kepala Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepala Daerah. Tampilkan semua postingan

17 Mei 2020

Riza Falepi Beberkan Alasan Batal Bertarung dalam Pilgub Sumbar

Riza Falepi Beberkan Alasan Batal Bertarung dalam Pilgub Sumbar

PAYAKUMBUH –  Sulitnya berkomunikasi dengan petinggi PKS di pusat, selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), membuat Riza Falepi memilih mundur dari pencalonan sebagai Gubernur Sumbar periode 2021-2016.
Kemudian kesibukan dalam mengurus wabah Covid-19 di Payakumbuh, membuat urusan Pilgub Sumbar jadi terabaikan. 
“Mohon maaf, karena kesibukan mengurus Covid-19 membuat urusan administrasi yang diminta DPP PKS jadi terabaikan. Tidak bisa saya penuhi sesuai harapan pengurus pusat,” ujar Riza melalui telepon selulernya, Sabtu (16/5). 
Dikatakan Riza, dirinya ikhlas memberikan kesempatan kepada calon lain yang lebih punya waktu untuk memenuhi seluruh persiapan terkait dengan Pilgub itu. Jadi pilihan mundur ini, tidak ada karena persoalan personal. Dan bukan karena faktor tertentu, tapi murni karena tak punya banyak waktu mengurus segala persiapan. “Termasuk beberapa persyaratan tersebut juga terlambat akibat Corona ini,” tambah Riza.
Diakuinya, dirinya akan fokus mengurus Covid-19 serta membangun Payakumbuh hingga berakirnya masa jabatannya, yakni pada 2022 mendatang. Ia ingin mewujudkan janji politiknya untuk membangun Masjid Agung, selain pembangunan infrastruktur lainnya. Ingin juga menuntaskan proyek strategis, normalisasi dan penataan Batang Agam. 
“Selepas masa jabatan nanti, saya akan kembali melanjutkan dunia usaha dengan grup yang sudah dirintis sebelum jadi walikota. Pengabdian saya buat negeri ini, bukan sebatas sebagai kepala daerah saja. Tapi bisa diaplikasikan dalam bentuk lain. Yang penting, segala usaha yang dikerjakan, berguna buat kepentingan rakyat banyak,” katanya. (bule)
Sumber: hariansinggalang.co.id 17 Mei 2020

15 Mei 2020

Riza Falepi tak Jadi Maju di Pemilihan Gubernur Sumbar

Riza Falepi tak Jadi Maju di Pemilihan Gubernur Sumbar

PAYAKUMBUH – Keputusan DPP PKS sampai saat ini belum turun terkait bakal calon yang akan diusungnya. Tapi, Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi, memastikan diri tidak maju dalam konteslasi politik perburuan kursi Gubernur Sumbar, periode lima tahun ke depan, 2021-2026.
Walikota Payakumbuh H. Riza Falepi bersama Walikota Padang H. Mahyeldi, merupakan dua kader PKS terbaik yang digadangkan sangat berpeluang untuk menjadi calon Gubernur Sumbar. Keduanya, merupakan kepala daerah dua periode di Payakumbuh dan di Padang. Keduanya pun berpeluang besar merebut kursi BA 1 Sumbar. 
Namun, kenapa Riza Falepi memilih tidak maju kepemilihan Gubernur Sumbar periode lima tahun mendatang. Alasannya realistis saja, hasil survei Mahyeldi lebih baik daripadanya. Mantan senator DPD RI itu, mengakui secara jujur, lebih baik fokus melakukan pencegahan dan menghentikan laju peredaran wabah Virus Corona Disease atau Covid-19 di Payakumbuh, ketimbang berburu kursi gubernur. 
“Saya harus menyelamatkan rakyat Payakumbuh dari ancaman Covid-19. Jadi tak berpikir lagi dengan hal-hal lain, termasuk dengan percaturan permainan politik, pilgub ini,” ujar Riza Falepi, kepada topsatu, Jumat (15/5), yang baru saja dinobatkan sebagai kepala daerah terbaik di Sumbar, dalam penanganan pencegahan Covid-19 bersama Walikota Padangpanjang dan Walikota Bukittinggi versi Kabarnagari.
Dikatakan Riza, hasil survei pemilihan Gubernur Sumbar, Mahyeldi lebih baik daripada dirinya. Meski belum menjamin, tapi dalam perhitungan objektif sejumlah lembaga survei Mahyeldi berada diatasnya. Riza mencontohkan hasil survei terakhir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis akhir Desember lalu, menunjukkan dukungan kepada Mahyeldi mengalahkan dirinya. 
Menjawab pertanyaan media, terhadap dukungan yang telah diberikan kepada Riza saat ini, Walikota Payakumbuh bertabur prestasi ini, meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sebaliknya, Riza menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan itu.
“Mohon maaf, jika mengecewakan hati para pendukung. Dan saya aturkan terimakasih atas dukungan yang diberikan selama ini. Semoga Allah SWT memberi pahala setimpal atas keikhlasan semua warga, dalam memberikan dukungan selama ini kepada saya,” kata Riza.
Menurut Riza, apapun keputusan DPP dalam penetapan calon gubernur nanti, ia legowo. Dan siap memberikan dukungan buat Mahyeldi. “Sebagai kader yang baik dan militan, saya mengajak seluruh pendukung untuk mengantarkan Mahyeldi merebut kursi Gubernur Sumbar kedepannya,” pungkasnya. (bule)

Sumber: hariansinggalang.co.id 15 Mei 2020

14 Mei 2019

Buya Mahyeldi

Buya Mahyeldi

Oleh Cahyadi Takariawan

Ada sangat banyak cara orang memanfaatkan waktu saat berada dalam penerbangan dengan pesawat terbang. Sebagia orang menggunakan waktu untuk mengobrol dengan teman duduk di sampingnya, ada yang membaca buku, ada yang menonton film, ada yang mendengarkan musik atau murattal melalui headset, ada yang tilawah, ada pula yang tidur. Saya golongan yang terakhir ini.
Bagi saya, penerbangan adalah jatah istirahat, agar ketika mendarat sudah fresh dan siap langsung berkegiatan dengan fit. Tapi pagi ini saya tidak bisa tidur, saat terbang dari Halim Perdanakusuma menuju Yogyakarta dengan Batik Air. Bukan karena turbulence pesawat, bukan karena cuaca, tapi karena terusik pembicaraan dua orang yang duduk di samping kanan saya.
Biasanya, setelah duduk dan mengenakan seatbelt, saya akan sejenak memeriksa pesan di smartphone, lalu mematikan smartphone, dan bersiap tidur. Pagi inipun berlaku hal seperti itu. Namun baru saja saya bersiap tidur, saya terusik dan dibuat penasaran oleh pembicaraan dua tersebut. Akhirnya saya menjadi tidak bisa tidur.
Sesungguhnya saya tidak berusaha menguping, karena menguping bukan tindakan terpuji. Namun karena mereka mengobrol tepat di samping saya, mau tidak mau saya ikut mendengar dan mengerti isi omongan mereka berdua.
Tampaknya mereka berdua belum kenal satu sama lain, lalu mengobrol ringan untuk memanfaatkan waktu sepanjang penerbangan. Yang satu seorang ibu, satu lagi seorang bapak. Dari pakaian dan penampilannya, keduanya tampak sebagai kalangan profesional. Sepertinya sama-sama orang pemerintahan, sehingga obrolannya nyambung dan asyik.
Yang membuat saya tidak bisa tidur, karena si ibu menyebut-nyebut dan membicarakan salah satu teman saya, Buya Mahyeldi, Walikota Padang,. Si ibu ini sepertinya aparatur sipil negara, di Pemkot Padang yang tengah dinas ke Yogyakarta. Ia bercerita kepada si bapak tentang berbagai program dan kegiatan, sampai akhirnya bercerita tentang Walikota Padang.
Awalnya saya tidak peduli dengan omongan mereka. Namun begitu si ibu menyebut Walikota Padang, telinga saya langsung “berdiri”. Menurut si ibu itu, Walikota Padang adalah orang yang baik. Sebagai pemimpin, beliau sangat merakyat. Si ibu lalu menceritakan kehidupan keseharian Buya.
“Orangnya sederhana. Pakaiannya itu itu saja, kalau tidak baju dinas Pemkot, ya baju warna putih. Tidak pernah berpakaian yang mewah-mewah”, ujar si ibu.
Menurut si ibu, Walikota Padang sangat dekat dengan rakyat. Sejak dulu, beliau suka masuk kampung dan tidak sungkan tidur di rumah-rumah warga. Bahkan pada bulan Ramadhan ini, hampir setiap malam Walikota tidur di rumah warga miskin. Berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, dari mereka yang tercatat sebagai warga miskin di Kota Padang.
Sungguh saya sangat terharu mendengar penuturan ibu itu.
Si ibu juga menceritakan bahwa Walikota Padang sangat lembut dan santun. Dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari, tidak pernah arogan. Hal ini membuat para aparatur menjadi nyaman. Sebagai aparatur daerah, si ibu bisa membandingkan hal ini dengan pemimpin lainnya. Buya Mahyeldi, menurutnya, sangat menjaga sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang lain.
“Kalau berbicara, beliau sering mengutip ayat dan hadits. Cara bicaranya halus. Jadi kita itu merasa sejuk mendengarkan arahannya” kata si ibu.
Bukan saja tentang diri Walikota yang diceritakan. Si ibu juga menceritakan istri Walikota yang ternyata juga sangat santun dan Islami. Menurut si ibu, ketika berbicara di forum, istri Walikota juga sering mengutip ayat dan hadits, seperti suaminya, sehingga membuat nyaman yang mendengarkan.
Menurutnya, Walikota Padang bukan hanya baik secara pribadi dan keluarga, namun juga sukses dalam membangun Kota Padang. Sangat banyak perubahan Kota Padang semenjak dipimpin Buya Mahyeldi, termasuk dalam hal kinerja aparatur serta perbaikan sistem pemerintahan. Hal ini menjadi semakin membanggakan bagi aparatur dan masyarakat Kota Padang pada umumnya.
Kedua orang yang tengah mengobrol itu tidak tahu kalau saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun saya mendengar tanpa sengaja, namun akhirnya menikmati sampai selesai. Saya benar-benar tidak tidur hingga pesawat mendarat di Jogja. Hilang sudah kesempatan saya untuk istirahat di pesawat seperti biasanya. Namun tergantikan oleh sebuah kisah yang mencengangkan bagi saya tentang Buya Mahyeldi.
Saya sudah lama tidak bertemu beliau, sehingga tidak update terhadap kegiatan beliau akhir-akhir ini. Saya bersyukur tanpa sengaja telah mendapat update kondisi beliau hari ini dari obrolan ringan yang tanpa sengaja saya dengarkan.
Si ibu bercerita lancar tanpa beban, karena ia tidak tahu kalau saya teman Buya, juga tidak tahu kalau mendengarkan omongannya. Jadi saya menilai cerita itu tulus, bukan mengada-ada, bukan untuk mencari point atau semacamnya,  karena bercerita kepada orang yang baru saja dikenalnya di pesawat.
Mendengar itu semua, saya semakin kagum dengan Buya Mahyeldi. Sosok pemimpin daerah yang kharismatik, membuat nyaman aparatur pemerintahan, membuat sejuk suasana kerja, sangat merakyat, bahkan rela tidur bersama oramg miskin di rumah mereka. Saya merinding mendengar itu semua.
Kita masih ingat, dulu pernah ada Walikota yang dikabarkan suka blisukan, dan tiap hari serentak diberitakan koran serta TV nasional. Semua media gencar memberitakan si Walikota yang dianggap sederhana tersebut. Orang tidak tahu bahwa untuk bisa masuk pemberitaan media nasional secara massif itu tidak gratis. Butuh biaya besar untuk mencitrakan diri sebagai sederhana dan merakyat.
Bandingkan dengan Walikota Padang yang satu ini. Buya Mahyeldi, benar-benar dekat dengan rakyat, sosok yang hangat bersahabat, rela meninggalkan kasur empuknya di rumah dinas untuk tidur di rumah rakyat miskin setiap malam selama Ramadhan. TV nasional mana yang memberitakannya? Koran nasional apa yang meliput?
Sepertinya tak banyak orang mengenal Mahyeldi. Tak banyak orang mengerti kiprahnya. Tidak terkenal orangnya, layaknya para celeb poliikus lainnya. Juga tidak viral kisah dirinya. Tapi saya yakin, ia sangat terkenal oleh penduduk langit yang terus menerus mendoakannya, agar ia dikuatkan Allah untuk memimpin Kota Padang, kelak memimpin Sumatera Barat, bahkan bisa memimpin Indonesia. Tanpa pencitraan. Pemimpin seperti ini yang dirindukan masyarakat Indonesia.
Salam takzhim dari sahabat sekaligus muridmu, Buya Mahyeldi. Aku semakin kagum dan hormat kepadamu.
Terimakasih pula kepada ibu yang telah bercerita apa adanya, sehingga saya mendapatkan update informasi tentang sahabat saya.
Batik Air ID 7531, Jakarta Halim Perdanakusuma – Yogyakarta, take off 09.30 WIB, kursi 20 A. Selasa 14 Mei 2019.
Sumber: ruangbaca dot id

13 Mei 2019

Sahur Bersama di Rumah Janda Lansia

Sahur Bersama di Rumah Janda Lansia

Mahyeldi: Singgah Sahur Padukan Seluruh Aspek Pembangunan

PADANG - Di rumah kayu sederhana dengan ukuran 5x4 meter milik janda Kami Warni (63) di Sako Kelurahan Batu Gadang, Lubuk Kilangan, Wali Kota Padang Mahyeldi bersama Tim Singgah Sahur Kota Padang melakukan sahur bersama, Sabtu (11/5/2019).

Singgah sahur di rumah warga miskin yang tidak layak huni merupakan program Pemko Padang dan Baznas Kota Padang sejak beberapa tahun terakhir. Selain sahur bersama dan menyerahkan bantuan langsung, rumah yang dikunjungi juga akan "dibedah" hingga layak huni.

Kepada Wali Kota Mahyeldi dan Tim Singgah Sahur, Kami Warni (63) yang telah lanjut usai tersebut menceritakan aktivitas kesehariaannya. Mulai dari mengasuh dan membesarkan cucu kembarnya yang ditinggalkannya anaknya (meninggal dunia) beberapa saat setelah melahirkan, hingga bertenak sapi milik tetangga yang kandangnya persis berada di belakang rumah, atau tepatnya dinding rumah langsung menjadi dinding kandang sapi.

"Untuk mengasuh dan membesarkan 5 orang cucu yang ibunya telah meninggal, saya dibantu sama anak saya yang lain. Dan bayi kembar ini, juga dibesarkan bersama. Karena kesibukan mencari nafkah anak-anak saya, bayi ini lebih banyak sama saya", ungkap nenek Kami Warni.

Di kesempatan itu, Wali Kota Mahyeldi mengatakan, program singgah sahur dilakukan untuk memberikan perhatian kepada masyarakat yang kurang mampu agar bisa merasakan keindahan ramadan bersama-sama.

"Kita usahakan, sebelum Hari Raya, rumah nenek Kami Warni sudah selesai dibangun ulang hingga layak huni", ujar Mahyeldi.

Ditambahkannya, Pemko Padang melalui Dinas Kesehatan juga akan melakukan pendampingan kesehatan bagi cucu kembar nenek Kami Warni. Termasuk pengecekan sanitasi, air bersih, WC, dan keberadaan kandang sapi yang tepat berada di belakang rumah.

"Jadi, program singgah sahur bukan saja sekedar sahur bersama, menyerahkan bantuan dan melakukan bedah rumah. Tapi kita juga melihat dari aspek kesehatan, kondisi sosial dan ekonomi, jalur transportasi, listrik, dan kebutuhan dasar lainnya", terang Mahyeldi.

Untuk itu, Mahyeldi mengatakan, Tim Singgah Sahur diikuti SKPD Pemko Padang yang pada kesenpatan ini diikuti Kepala Bapedda Medi Iswandi, Kepala Dinas Kesehatan Feri Mulyani, Kepala Dinas Perhubungan Dian Fakri, Plt Kepala Dinas Sosial Afriadi, Kalaksa BPBD Edi Hasymi, Kepala DPMPTSP Rudy Rinaldy, Kepala Bagian Humas Imral Fauzi, Camat Lubuk Kilangan Yal Masril serta Dirut PDAM Kota Padang Hendra Febrizal dan Baznas Kota Padang. (*)

Pewarta: Ulil Amri Abdi/ Ady Syaflian

Sumber: FB Humas Kota Padang

09 Juni 2016

Singgah Sahur Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah

Singgah Sahur Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah

Kunjungi Warga Miskin, Lalu Rumah Dibedah

Program Singgah Sahur kembali dilakukan Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah. Kali ini, Wako Padang Mahyeldi mengunjungi rumah warga miskin di kaki Bukit Durian Batu, Pasalalang, Kelurahan Kuranji, Rabu (8/6) dini hari. Bagaimana ceritanya?

Saat warga Padang masih tertidur pulas, sebuah mobil Fortuner hitam bernomor polisi satu angka melesat kencang. Membelah dinginnya malam. Dengan kecepatan di atas rata-rata, kendaraan itu menuju arah timur Kota Padang.

Setibanya di kaki Bukit Durian Batu, Pasalalang, Kelurahan Kuranji, kendaraan itu berjalan pelan. Jalan yang tak pernah “dimakan” aspal terpaksa harus dilalui. Tanjakan tinggi dengan bebatuan berbalut lumpur mesti ditempuh.

Bukan perkara mudah bagi kendaraan ini untuk menempuh medan. Akibat licinnya tanah setelah diguyur hujan, si sopir harus menyeimbangkan laju kendaraannya.

Sekira pukul 04.00, kendaraan tersebut berhenti di depan rumah Jasril. Dari atas kendaraan, turun Wako Padang Mahyeldi. Berpeci dan berbaju putih, Wako masuk ke dalam rumah Jasril yang terbuat dari papan.

Jasril adalah petani. Sedangkan Nurjati hanya ibu rumah tangga, membesarkan ketujuh anaknya. Mereka termasuk keluarga yang kurang mampu. Wako Mahyeldi duduk di beranda rumah. Jasril beserta istri dan anak-anaknya menemani. Mereka saling bercengkerama. 

Mahyeldi paling banyak bertanya. Jasril terlihat sedikit kagok menjawab. Wako pun menanyakan cita-cita Rindu dan Aidil, anak-anak Jasril. Keduanya punya cita-cita yang berbeda. 

“Aidil mau jadi tentara,” kata Aidil di depan Wako Mahyeldi. “Rindu ingin jadi bidan,” sebut Rindu setelah itu.

Wali Kota kemudian makan sahur bersama keluarga Jasril. Nasi kotak telah disiapkan Tim Singgah Sahur Pemko Padang. Seluruhnya menikmati makan sahur sebelum masuknya waktu imsak.

“Ini merupakan program Singgah Sahur perdana di Ramadhan tahun ini. Inshaallah tahun ini kita akan mengunjungi sepuluh rumah. Ini merupakan tahun ketiga kita melaksanakannya,” ungkap Wali Kota.

Mahyeldi mengaku cukup senang bertemu dengan keluarga Jasril. Apalagi suasana rumah Jasril yang berada di atas ketinggian, membuat Mahyeldi terkesima. “Sejuk sekali disini dan menyenangkan,” sebut Mahyeldi.

Yang paling membuat Mahyeldi senang yakni hampir seluruh anak Jasril bersekolah. Tidak ada yang putus sekolah. Bahkan bercita-cita tinggi.

“Anak-anak semuanya sekolah, punya cita-cita seperti ingin jadi tentara, bidan, guru dan lainnya. Mudah-mudahan Pak Jasril berhasil mendidik anak-anaknya dan sukses,” tukas Mahyeldi.

Setelah dikunjungi, rumah Jasril akan dibedah oleh Baznas Kota Padang. “Kita akan bedah rumah ini dan sebelum lebaran selesai,” ungkap Mahyeldi.

Ketua Baznas Kota Padang, Epi Santoso menyebut rumah milik Jasril bukan dibedah secara keseluruhan. Akan tetapi direhab. “Kita akan buat kamar bagi anak-anak dan bagian lainnya,” terang Epi.

Jasril begitu senang mendengar rumahnya akan dibedah. Dia terharu. “Alhamdulillah, senang bisa dikunjungi Pak Wali Kota. Harapan saya, anak-anak bisa sukses. Biarlah saya begini, asalkan anak-anak sukses,” ungkapnya dengan terbata. (*)

Padang Ekspres, 9 Juni 2016

16 April 2016

Hafal Alquran, Bebas Pilih Sekolah di Padang

Hafal Alquran, Bebas Pilih Sekolah di Padang

PADANG – Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah menyatakan siswa penghafal Alquran dapat bebas memilih sekolah sesuai keinginannya.

“Siswa yang mampu hafal 1 juz, 3 juz dan 5 juz Alquran dapat masuk ke sekolah sesuai jenjang kelanjutannya,” katanya di Padang, Sabtu.

Dia menyebutkan pihaknya telah memiliki kebijakan, siswa SD yang hafal 1 Juz Alquran akan dibebaskan untuk masuk SMP mana pun yang ada di Padang.

Sedangkan siswa SMP yang hafal 3 Juz dibebaskan memilih sekolah menengah diantara jumlah yang ada. Dan siswa SMA yang hafal 5 Juz diberi kesempatan masuk secara khusus ke universitas seperti yang dilakukan Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, tambahnya.

“Siswa penghafal Alquran dijamin memiliki tingkat kepintaran dan kecerdasan di atas rata-rata, sehingga tidak akan ada kerugian bagi sekolah penerimanya,” ujarnya.

Untuk itu, dia mengapresiasi bagi sekolah atau perguruan tinggi di Padang yang telah menggalakkan program hafal Alquran bagi siswa atau mahasiswa.

Seperti yang dilakukan oleh SMA 2 Padang, kata dia perlu dicontoh oleh sekolah lainnya.
Sebab dengan begitu sekolah tersebut telah melakukan peningkatan kualitas sumber daya manusianya, sebutnya.(*/lek)

Sumber: hariansinggalang.co.id, 16 April 2016

Foto: FB FP Irwan Prayitno

25 Maret 2016

Walikota Padang Resmikan Petualang Fajar Garuda Keadilan

Walikota Padang Resmikan Petualang Fajar Garuda Keadilan


Jumat, 25 Maret 2016, Garuda Keadilan Sumatera sukses menggelar launching Petualang Fajar di asrama Haji kota Padang. Acara ini dihadiri sekitar 100 pemuda-pemudi dan masyarakat sekitar.

Petualang Fajar yang berslogan Sholat Shubuh Serasa Sholat Jumat ini diresmikan oleh Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, SP.

Dalam ceramahnya, sosok yang sering disapa Buya ini mengatakan bahwa Walikota Padang menyediakan 2000 reward atau penghargaan bagi para pemuda dan pemudi di kota padang yang bisa secara rutin melaksanakan sholat shubuh berjama’ah di masjid.

“Untuk mengikuti program ini, muda-mudi sekalian bisa mendaftarkan diri ke pengurus masjid setempat sehingga bisa terus dipantau apakah layak mendapatkan reward sesuai yang dijanjikan.” Paparnya ketika mengisi ceramah shubuh.

Mahyeldi juga menjelaskan bahwa musuh-musuh islam sebenarnya takut jika pemuda-pemuda islam ramai dan gigih melaksanakan sholat shubuh berjama’ah di masjid. "Karena ramainya orang-orang yang mendirikan sholat shubuh mampu membuat musuh-musuh islam gentar dan ketakutan." Ungkapnya.

Walikota Padang tersebut juga berharap jika pemuda-pemuda islam yang ada saat ini mampu menjadi pemimpin masa depan yang lebih sehat, lebih cerdas, lebih berkualitas sehingga mampu melahirkan generasi-generasi dan anak bangsa yang berkualitas berikutnya.

Di akhir ceramahnya, Buya Mahyeldi mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah yang bisa mengangkat selimutnya ketika shubuh dan mengalahkan hawa dingin waktu fajar. (Afifah)

09 Juli 2015

Pagi Salat Istisqa, Malam Hujan Mulai Turun

Pagi Salat Istisqa, Malam Hujan Mulai Turun

PADANG, HALUAN — Se­la­ma bulan puasa ini Kota Padang dan daerah lainnya mengalami kemarau berke­panjangan. Hujan tak turun-turun. Tanaman meranggas karena kekeringan.
Melihat kondisi de­mi­kian, Pemerintah Kota Pa­dang menggelar salat Istisqa (salat minta hujan) di pela­taran parkir Kantor Balai­kota di Aia Pacah, Selasa (7/7). Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemko Padang terlihat khu­syuk mengikuti pelaksanaan salat tersebut.

Sekitar pukul 08.00 Wib, seluruh ASN sudah ber­kumpul di halaman parkir Balaikota. Mereka mengisi tikar-tikar yang telah di­siapkan panitia. Setelah saf mulai terisi penuh, pelak­sanaan salat dimulai.

Walikota Padang H. Mah­yeldi Ansharullah ke­mudian menaiki mimbar. Wako menyebut digelarnya salat Istisqa karena selama ini Kota Padang terlihat mengalami kekeringan. "Li­hat tanaman di sekitar kita mulai menguning, rumput banyak yang mati, sawah sudah kering dan di kawasan tertentu air sudah mulai berkurang. Karena itu sesuai ajaran Islam maka shalat Istisqa' kita gelar," katanya.

Wako berharap, seluruh ASN yang berkumpul dalam pelaksanaan shalat Istisqa' ini dalam keikhlasan se­hingga nantinya Allah SWT akan mengabulkan harapan dan doa nantinya. Pelak­sanaan shalat Istiqa' sengaja dilakukan di Kantor Balai­kota di Aia Pacah. Sehingga kantor tidak saja dijadikan tempat untuk bekerja, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. "Mudah-mudahan dengan keikhlasan  dan harapan, doa kita saat shalat Istisqa' terkabul," sebutnya.

Shalat Istisqa' memang jarang dilakukan di Kota Padang. Khatib shalat Is­tisqa' H. Sobhan Lubis sem­pat memaparkan prosesi shalat Istsiqa' di depan selu­ruh jamaah. Shalat Istisqa' hampir sama dengan shalat Ied, dua rakaat dengan tujuh kali takbir serta dengan niat meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

H. Sobhan Lubis dalam khut­bahnya mengatakan bala ditu­runkan Allah SWT kepada umat­Nya bukan tanpa sebab. Bala itu datang kepada umat manusia yang memandang rendah suatu bala. Kemudian bala datang ketika terjadi maksiat secara terang-terangan."Bala datang kepada umat yang zalim kepada orang lain, saling menggunjing serta senang mengambil yang haram," sebutnya.

Di sisi lain, khatib mengata­kan bahwa di antara bala yang ditu­runkan itu yakni kekeringan. "Air sumber kehidupan. Air meru­pakan rahmat. Akan tetapi air yang turun juga terkadang tak bermanfaat seperti banjir," tam­bahnya.

Pelaksanaan salat Istisqa yang dilakukan Pemko Padang men­dapat respon dari masyarakat sekitar. Masyarakat pada umum­nya sangat mendukung pelak­sanaan salat Istisqa. Hal itu diutarakan Yeli. Wanita yang berdomisili di Balai Baru, Ku­ranji itu sangat berharap setelah shalat Ististqa hujan segera turun sehingga kekeringan yang me­landa selama ini dapat berlalu. "Tanaman banyak meranggas, cuaca juga sangat panas. Mudah-mudahan setelah ini hujan," se­butnya seakan mewakili suara masyarakat banyak.

Alhamdulilah, doa masya­rakat dikabulkan oleh Allah SWT. Malam harinya, setelah salat tarawih hujan mulai turun di beberapa lokasi di Kota Padang seperti di Gunung Pangilun dan Tabing. Meski hanya berupa geri­mis, namun cukup untuk membasasi tanah yang sudah kering. (h/rel/ows)

harianhaluan.com 8 Juli 2015

PKS Foto Sumbar

[PKS Foto Sumbar][recentbylabel3]

Dakwah

[Dakwah][recentbylabel3]
Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done