PKS Sumbar: Hikmah
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

12 September 2025

 Pelajaran dari Sejarah Keruntuhan Andalusia dan Baghdad untuk Persatuan Umat

Pelajaran dari Sejarah Keruntuhan Andalusia dan Baghdad untuk Persatuan Umat


Ditulis oleh Ust. H. Oktarizal Fiardi, Lc., M.Sos. 
(Ketua DED PKS Kota Padang)

Sejarah selalu berbicara dengan caranya sendiri. Ia mengajarkan kepada kita bahwa umat yang lengah, terpecah dan merasa aman dengan jarak geografis, pada akhirnya akan ditelan musuh yang sama.

Mari kita ingat dan membaca kembali sejarah masa lalu:

Ketika bangsa Tartar menyerbu Bukhara dan Samarkand, kaum Muslimin di Baghdad dan Damaskus berkata, "Apa urusan kita dengan itu? Mereka jauh dari kita."

Namun tak sampai 27 tahun kemudian, giliran Baghdad dan Damaskus yang hancur di tangan musuh yang sama.

Ketika Cordoba jatuh ke tangan Kastilia, penduduk Granada merasa aman dan berkata, "Kita tidak akan mengalami nasib itu."

Padahal kenyataannya, sejarah akhirnya menelan seluruh Andalusia. Hingga kini, kejatuhannya dikenang sebagai satu peristiwa besar, meski antara jatuhnya Cordoba dan Granada ada jarak waktu lebih dari 250 tahun.

Antara Gaza dan Doha

Hari ini, sejarah seakan terulang kembali di depan mata kita.

*sra*l tidak hanya membombardir Gaza hingga ribuan anak syahid dan ratusan ribu orang terusir dari rumahnya, tetapi juga berani menyerang delegasi H*m*s di Doha, Qatar, sebuah negeri yang selama ini menjadi mediator perdamaian.

Dan apa reaksi negara-negara Arab?

Mayoritas memilih diam.

Ada yang sekadar mengeluarkan pernyataan kecaman, tetapi tanpa langkah nyata.

Tidak ada pergerakan kolektif dari Liga Arab, tidak ada aktivasi serius dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), bahkan perjanjian pertahanan bersama negara-negara Arab seakan hanya tinggal dokumen tanpa makna.

Padahal, jika hari ini mereka berkata, "Itu urusan Gaza, itu urusan Qatar, bukan urusan kita."

Maka jangan kaget bila suatu hari api itu menjalar ke negeri-negeri mereka. Seperti Baghdad yang akhirnya terbakar setelah Bukhara atau Granada yang hancur setelah Cordoba.

Allah sudah memperingatkan dalam firman-Nya,

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu; dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Perpecahan, saling menyalahkan dan merasa aman sendiri adalah awal kehancuran umat.

Rasulullah Saw. pun telah mengingatkan dalam haditsnya,

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim)

Artinya, sakitnya Gaza adalah sakit kita semua, darah yang tertumpah di Palestina adalah darah kita juga dan serangan ke Doha adalah ancaman bagi seluruh negeri Islam.

Persatuan adalah Kunci Kekuatan

Hari ini, kaum muslimin, khususnya negara-negara Arab, tidak hanya sedang membaca sejarah Andalusia atau Baghdad.

Tapi, hari ini, kita sedang menulis sejarah baru.

Apakah sejarah akan menulis kita sebagai generasi yang diam ketika Gaza hancur, atau generasi yang bangkit membela izzah umat?

Jangan sampai anak cucu kita membaca kisah kita seperti membaca kisah Andalusia, "Mereka punya kesempatan, tapi mereka diam. Mereka punya kekuatan, tapi mereka tercerai-berai. Mereka bisa mencegah kehancuran, tapi memilih untuk pasif."

Inilah saatnya kaum muslimin dan khususnya negara-negara Arab bersatu, bukan sekadar dalam doa, tapi juga dalam sikap politik, diplomasi, ekonomi dan bahkan dalam narasi perjuangan.

09 September 2025

 Untukmu yang Memikul Amanah Dakwah

Untukmu yang Memikul Amanah Dakwah

Oleh : Satria Asmal,S.P. (Ketua DPD PKS Padang Panjang)

Amanah bagi seorang kader, ​tidak diminta, tapi tidak bisa menolak. Ketika syuro sudah memutuskan Hanya satu pilihan, laksanakan! Begitulah kita diajarkan dalam Islam ini. Karena ketaatan adalah bukti cinta dan tsiqohnya kita pada perjuangan ini.

​Kepemimpinan adalah sebuah amanah. Beban yang berat, tanggung jawab yang besar. Mungkin sebagian dari kita tak pernah meminta untuk berada di posisi ini, namun saat syura (musyawarah) telah memutuskan, tak ada pilihan lain selain menerimanya. 

Ini adalah bagian dari metode yang diajarkan dalam Islam, sebuah proses yang mengikat kita dalam ketaatan. Menerima amanah bukanlah soal ambisi pribadi, melainkan wujud kepasrahan kepada keputusan kolektif demi kebaikan bersama. 

Maka, apa yang harus kita lakukan saat amanah itu berada di pundak kita?

Langkah yang Harus Diambil

​1. Luruskan Niat

​Ini adalah pondasi utama. Pastikan bahwa niat kita memikul amanah ini semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dihormati, atau mendapatkan keuntungan duniawi. Niat yang lurus akan menjadi sumber kekuatan tak terbatas di tengah tantangan yang datang. 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

​"Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

​2. Berdoa Memohon Pertolongan Allah

​Amanah dakwah terlalu berat untuk dipikul sendirian. Kita membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Panjatkan doa setiap saat, mohon agar Allah memudahkan urusan, menguatkan hati, dan melancarkan langkah kita dalam menjalankan tugas.

​"Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu." (QS. Ghafir: 60)

​3. Bangun Ukhuwah yang Kuat

​Jamaah ini hanya akan kuat jika ukhuwah (persaudaraan) kita kokoh. Hilangkan ego, jalin komunikasi yang baik, dan saling dukung satu sama lain. Kita adalah satu tubuh. Jika satu bagian sakit, yang lain turut merasakan sakitnya.

​"Orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

​4. Perbaiki Hubungan dengan Allah

​Amanah ini adalah kesempatan emas untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Perbanyak shalat sunnah, perbaiki kualitas ibadah wajib, dan perbanyak dzikir. Hati yang terhubung dengan Allah akan lebih tenang, bijaksana, dan mampu mengambil keputusan yang benar.

​"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS. Al-Hasyr: 18)

​5. Bersungguh-sungguhlah dalam Menjalankan Tugas

​Setelah niat lurus dan hati terhubung dengan Allah, laksanakan tugas dengan profesionalisme dan kesungguhan. Berikan yang terbaik dari diri kita, curahkan tenaga dan pikiran, karena Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan sungguh-sungguh.

​"Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan sesuatu, dia mengerjakannya dengan itqan (profesional dan sungguh-sungguh)." (HR. Al-Baihaqi)

​6. Seringlah Mendengar

​Seorang pemimpin yang baik bukanlah yang paling banyak bicara, melainkan yang paling banyak mendengar. Dengarkan masukan, kritik, dan keluhan dari anggota. Dengan mendengar, kita akan memahami masalah dengan lebih baik dan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.

​7. Tetapkan Target dan Tujuan yang Jelas

​Amanah tanpa target bagaikan berjalan di kegelapan. Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis dan terukur. Ini akan menjadi panduan bagi seluruh anggota tim dan memastikan setiap langkah yang diambil memiliki makna.

​8. Maksimalkan Ikhtiar, Hebatkan Doa

​Kerja keras (ikhtiar) harus diiringi dengan doa yang tak putus. Berusaha semaksimal mungkin, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Ikhtiar adalah wujud ketaatan, sementara doa adalah wujud ketergantungan kita kepada-Nya.

​Semoga Allah menguatkan pundak kita semua dalam memikul amanah dakwah ini. Semoga Allah kumpulkan kita, para pengemban amanah, di surga-Nya kelak. Aamiin ya rabbal alamin.


Amanah (Jabatan) adalah Ujian, Bukan Kehormatan

Amanah (Jabatan) adalah Ujian, Bukan Kehormatan

Ditulis oleh Ust. H. Oktarizal Fiardi, Lc,. M.Sos
(Ketua DED PKS Kota Padang)

Seringkali kita merasa "tinggi" karena diberi posisi. Kita duduk di kursi jabatan, lalu seolah-olah itu pertanda kita "lebih" dibanding yang lain. Padahal, sering kali posisi itu bukan karena kita lebih hebat, tetapi semata-mata karena Allah memberikan kita kesempatan.

Allah Swt  berfirman,

“Allah menganugerahkan kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki. Allah memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya segala kebaikan.” (QS. Ali Imran: 26)

Ayat ini menegaskan bahwa jabatan bukan karena kepintaran atau kelayakan semata, tetapi karena Allah yang menakdirkan dan memberikan kesempatan.

Amanah Itu Berat, Bukan Sekadar Gelar

Rasulullah Saw. mengingatkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.,

“Sesungguhnya amanah itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya yang seharusnya ditunaikan.” (HR. Muslim)

Maka amanah bukanlah kehormatan yang harus disombongkan, melainkan beban tanggung jawab yang akan ditanya di hadapan Allah.

Meneladani Nabi Saw dan Para Sahabat r.a.

Nabi Muhammad Saw. bersabda ketika seorang sahabat meminta jabatan,

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah). Tetapi jika engkau diberi karena memintanya, engkau akan dipikul (sendiri tanggung jawabnya).” (HR. Bukhari & Muslim)

Abu Bakr Ash-Shiddiq r.a. saat diangkat menjadi khalifah berkata dengan penuh rendah hati,

“Aku telah dipilih menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, ikutilah aku. Jika aku salah, luruskanlah aku.”

Umar bin Khattab r.a. sering menangis di malam hari seraya berkata:

“Seandainya seekor keledai tersandung di jalan Irak, aku khawatir Allah akan menuntutku, Mengapa engkau tidak meratakan jalannya, wahai Umar?”

Para salafusshalih sangat berhati-hati dengan jabatan. Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,

“Demi Allah, kepemimpinan bukanlah kenikmatan, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.”

Antara Rendah Hati, Tanggung Jawab dan Sinergi

Siapa yang hari ini diberikan amanah bukan berarti dia paling hebat di antara saudara-saudara seperjuangan. Bisa jadi ada kader lain yang sebenarnya jauh lebih hebat, lebih ikhlas, lebih cerdas dan lebih visioner, namun untuk saat ini, jalan dan peluang belum Allah bukakan baginya.

Maka ada tiga prinsip penting untuk selalu direnungkan oleh mereka yang diberikan amanah:

1. Rendah hati. Jangan jadikan jabatan sebagai kebanggaan, tapi sebagai ladang pelayanan.

2. Sadar tanggung jawab. Selalu ingat, setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

3. Bersinergi. Jabatan bukan berarti bekerja sendiri, tapi menjadi penggerak yang merangkul potensi kader lain yang mungkin justru lebih hebat.

Kursi jabatan hanyalah singgah. Ia akan pergi bersama waktu, dan yang tersisa hanyalah hisab di hadapan Allah. Amanah harus dijadikan sebagai jalan untuk lebih dekat dengan-Nya, bukan untuk meninggi di hadapan manusia.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Maka, jadilah pengemban amanah yang dicintai Allah, yang tawadhu kepada kader, yang melayani umat dan yang menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab.

02 September 2025

 Halaqah Keluarga Pertama Kami

Halaqah Keluarga Pertama Kami


Oleh: Umi Nusaibah 

Kemarin sore adalah hari yang istimewa bagi keluarga kecil kami. Untuk pertama kalinya, kami mengadakan halaqah keluarga, sebuah majelis kecil yang kami bangun bersama, sederhana tapi penuh makna.

Kak Nusaibah menyebutnya dengan nama yang indah, Liqo' Keluarga.

Uni Maryam berperan sebagai moderator, umi mentasmi’kan surat An Naba', kultum disampaikan oleh Kak Nusaibah. Dan tentu saja puncaknya adalah nasihat dari sang murabbi agung dalam keluarga ini, Abi tercinta.

Dan jangan lupakan si kecil, adik Muhammad, yang menemani acara dengan riang gembira sambil bermain balon.

Kultum Perdana: Malaikat Itu Nyata

Sore itu, Kak Nusaibah menyampaikan kultum pertamanya dengan penuh semangat.
Temanya adalah, “Ternyata malaikat juga berwujud, lho.”
Karena ini kali pertama, Kakak masih membacakannya dari buku. Tapi sungguh, ada rasa syahdu yang hadir saat ia berbagi ilmu, membuat suasana hati kami hangat.

Abi pun tak kalah memberi warna. Ia menyuguhkan kisah tentang Imam Kisa'i. Dahulu, beliau hanyalah seorang penggembala kambing. Namun suatu hari, seorang ibu menjadikannya contoh kebodohan di depan anaknya. Kata-kata itu membuatnya tersentuh, hingga ia menjual kambing-kambingnya, lalu tekun belajar meski sudah berusia 40 tahun.
Hasilnya luar biasa, ia tumbuh menjadi ulama besar, bahkan menjadi guru bagi anak-anak khalifah.

Pesan Abi jelas, Jangan pernah berhenti belajar. Jangan marah ketika direndahkan. Teruslah berusaha, sebab ilmu akan mengangkat derajatmu.
MasyaAllah, kisah-kisah dari Abi memang selalu berhasil membangkitkan semangat kami.

Kehangatan Sore Itu

Sore itu semakin lengkap dengan suguhan kecil yang dibawakan Abi, roti bakar lumer dan susu full cream, kesukaan kami semua. Mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam kebersamaan, segalanya terasa begitu nikmat.

Di penghujung halaqah, Abi memimpin doa. Suasana hening, hati kami terhubung dan ada harapan yang terpanjat, semoga majelis kecil ini menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup keluarga kami.

Kami sepakat, halaqah ini akan menjadi agenda rutin sekali dalam dua pekan. Tugas-tugasnya akan bergilir, agar anak-anak belajar arti tanggung jawab. Lebih dari itu, kami ingin mereka merasakan bahwa ibadah, ilmu, dan kebersamaan adalah sesuatu yang indah.

Harapan Seorang Ibu

Di dalam hati, umi hanya berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami shalih dan shalihah, cintakan mereka kepada ilmu, jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang istiqamah dalam belajar hingga akhir hayat.”

Mumpung hari Senin ini anak-anak sedang libur karena akan ada demo, bolehlah umi memberi hadiah kecil untuk mereka. Kata mereka dengan ceria, “Masak enak lagi ya, Umi?”
Dan tentu umi menjawab dengan senyum, “Siap!”

Halaqah ini mungkin sederhana, tetapi doa kami besar, semoga dari ruang tamu kecil ini lahir jiwa-jiwa yang cinta ilmu, cinta kebaikan dan cinta Allah.

PKS Foto Sumbar

[PKS Foto Sumbar][recentbylabel3]

Dakwah

[Dakwah][recentbylabel3]
Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done