PKS Sumbar: Artikel
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

08 November 2025

Ketika yang Bertahan Bukan yang Terbaik

Ketika yang Bertahan Bukan yang Terbaik

Oleh Ustadz Oktarizal, Lc, M.Sos (Ketua BKAP DPD PKS Kota Padang)

Ada sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi di perusahaan, tetapi juga bisa terjadi di lembaga, yayasan, bahkan organisasi dakwah: Seseorang yang lemah dalam kinerja, miskin inisiatif, dan tidak produktif bisa duduk di posisinya bertahun-tahun.

Sementara orang lain yang bersemangat, cerdas, dan membawa perubahan positif justru tidak bertahan lama,  mereka pergi, kecewa atau tersingkir pelan-pelan.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi di tempat yang seharusnya berorientasi pada nilai dan amanah, bukan pada jabatan dan gengsi?

Pertama, karena alat ukurnya berbeda

Dalam banyak organisasi dan lembaga, tolok ukur keberhasilan seringkali kabur.Yang dihargai bukan hasil dan dampak, melainkan loyalitas, kesetiaan pada figur, atau sekadar “tidak bikin ribut.”

Padahal Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu...” (QS. At-Taubah: 105)

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran utama dalam kerja adalah amal dan hasilnya, bukan lamanya seseorang bertahan di posisi. Seorang yang hebat dan kompeten biasanya menilai dirinya dari dampak nyata dan kualitas kontribusi.

Sementara sebagian orang yang lemah dan tidak kompeten lebih menilai dirinya dari kemampuan mempertahankan jabatan, menjaga citra dan menghindari masalah. Ia tahu banyak cara berpolitik, tapi tidak peduli cara berkontribusi.

Orang seperti ini bisa melewati badai tanpa perubahan, sementara orang-orang yang membawa “angin segar perubahan” justru dianggap mengganggu ketenangan lembaga.


Kedua, karena beda antara keahlian teknis dan kecerdasan sosial

Dalam dunia organisasi, kecakapan bekerja (technical skill) sering tidak seimbang dengan kecakapan berjejaring dan berkomunikasi (social-political skill). Ada orang yang sangat ahli di bidangnya, tapi tidak piawai membaca dinamika sosial organisasi

Sebaliknya, ada yang minim kompetensi, tapi pandai menjaga hubungan, tahu kapan harus bicara dan kapan harus menghilang untuk menyelamatkan diri. Dampak yang akan terjadi di lapangan ketika seorang yang lemah dan minim kompetensi bertahan, sementara seorang yang unggul tersingkir, konsekuensinya nyata:

  1. Talenta terbaik tidak terpakai. Mereka tersingkir karena dinilai sebagai biang ribut.
  2. Kinerja lembaga menurun. Semua bekerja sekadar menggugurkan kewajiban, bukan menorehkan prestasi.
  3. Inovasi macet. Energi habis untuk menjaga posisi, bukan memperbaiki sistem.
  4. Regenerasi terhambat. Karena kursi terlalu sakral, orang baru kehilangan ruang untuk tumbuh.
  5. Ruh perjuangan memudar. Aktivitas berubah menjadi rutinitas administratif tanpa semangat dan ruh ikhlas.


Ini adalah bentuk kemunduran yang sunyi, tidak meledak, tapi menggerogoti nilai dari dalam.

Mencari Solusi

Bedakan antara ketenangan semu dan stabilitas sejati. Stabilitas tidak lahir dari diam, tapi dari keadilan, kejelasan dan kepercayaan. Ukur kinerja dengan dampak, bukan lamanya masa jabatan. Allah menilai dari hasil amal, bukan dari durasi posisi.

Menghargai orang yang berbeda tapi konstruktif. Mereka bukan ancaman, tapi alarm dini agar lembaga tetap sehat. Bangun sistem evaluasi kepemimpinan yang rutin. Lihat siapa yang membangun manusia dan siapa yang justru mengurasnya.

Ciptakan mekanisme suksesi yang nyata. Jangan biarkan masa depan lembaga dan organisasi bergantung pada satu orang atau satu kursi.


Kesimpulan

Organisasi yang sehat harus mengubah alat ukurnya. Ketika dampak, keikhlasan, dan hasil nyata menjadi mata uang resmi dalam lembaga, maka kursi akan ditempati oleh orang yang pantas. Dan orang-orang terbaik akan memilih untuk tetap berjuang di dalamnya.

Di sisi Allah, yang bernilai bukan siapa yang paling lama dan paling dahulu  tetapi siapa yang meninggalkan jejak kebaikan yang tetap hidup setelah ia tiada.

12 September 2025

 Pelajaran dari Sejarah Keruntuhan Andalusia dan Baghdad untuk Persatuan Umat

Pelajaran dari Sejarah Keruntuhan Andalusia dan Baghdad untuk Persatuan Umat


Ditulis oleh Ust. H. Oktarizal Fiardi, Lc., M.Sos. 
(Ketua DED PKS Kota Padang)

Sejarah selalu berbicara dengan caranya sendiri. Ia mengajarkan kepada kita bahwa umat yang lengah, terpecah dan merasa aman dengan jarak geografis, pada akhirnya akan ditelan musuh yang sama.

Mari kita ingat dan membaca kembali sejarah masa lalu:

Ketika bangsa Tartar menyerbu Bukhara dan Samarkand, kaum Muslimin di Baghdad dan Damaskus berkata, "Apa urusan kita dengan itu? Mereka jauh dari kita."

Namun tak sampai 27 tahun kemudian, giliran Baghdad dan Damaskus yang hancur di tangan musuh yang sama.

Ketika Cordoba jatuh ke tangan Kastilia, penduduk Granada merasa aman dan berkata, "Kita tidak akan mengalami nasib itu."

Padahal kenyataannya, sejarah akhirnya menelan seluruh Andalusia. Hingga kini, kejatuhannya dikenang sebagai satu peristiwa besar, meski antara jatuhnya Cordoba dan Granada ada jarak waktu lebih dari 250 tahun.

Antara Gaza dan Doha

Hari ini, sejarah seakan terulang kembali di depan mata kita.

*sra*l tidak hanya membombardir Gaza hingga ribuan anak syahid dan ratusan ribu orang terusir dari rumahnya, tetapi juga berani menyerang delegasi H*m*s di Doha, Qatar, sebuah negeri yang selama ini menjadi mediator perdamaian.

Dan apa reaksi negara-negara Arab?

Mayoritas memilih diam.

Ada yang sekadar mengeluarkan pernyataan kecaman, tetapi tanpa langkah nyata.

Tidak ada pergerakan kolektif dari Liga Arab, tidak ada aktivasi serius dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), bahkan perjanjian pertahanan bersama negara-negara Arab seakan hanya tinggal dokumen tanpa makna.

Padahal, jika hari ini mereka berkata, "Itu urusan Gaza, itu urusan Qatar, bukan urusan kita."

Maka jangan kaget bila suatu hari api itu menjalar ke negeri-negeri mereka. Seperti Baghdad yang akhirnya terbakar setelah Bukhara atau Granada yang hancur setelah Cordoba.

Allah sudah memperingatkan dalam firman-Nya,

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu; dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Perpecahan, saling menyalahkan dan merasa aman sendiri adalah awal kehancuran umat.

Rasulullah Saw. pun telah mengingatkan dalam haditsnya,

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan di antara mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Muslim)

Artinya, sakitnya Gaza adalah sakit kita semua, darah yang tertumpah di Palestina adalah darah kita juga dan serangan ke Doha adalah ancaman bagi seluruh negeri Islam.

Persatuan adalah Kunci Kekuatan

Hari ini, kaum muslimin, khususnya negara-negara Arab, tidak hanya sedang membaca sejarah Andalusia atau Baghdad.

Tapi, hari ini, kita sedang menulis sejarah baru.

Apakah sejarah akan menulis kita sebagai generasi yang diam ketika Gaza hancur, atau generasi yang bangkit membela izzah umat?

Jangan sampai anak cucu kita membaca kisah kita seperti membaca kisah Andalusia, "Mereka punya kesempatan, tapi mereka diam. Mereka punya kekuatan, tapi mereka tercerai-berai. Mereka bisa mencegah kehancuran, tapi memilih untuk pasif."

Inilah saatnya kaum muslimin dan khususnya negara-negara Arab bersatu, bukan sekadar dalam doa, tapi juga dalam sikap politik, diplomasi, ekonomi dan bahkan dalam narasi perjuangan.

02 September 2025

 Halaqah Keluarga Pertama Kami

Halaqah Keluarga Pertama Kami


Oleh: Umi Nusaibah 

Kemarin sore adalah hari yang istimewa bagi keluarga kecil kami. Untuk pertama kalinya, kami mengadakan halaqah keluarga, sebuah majelis kecil yang kami bangun bersama, sederhana tapi penuh makna.

Kak Nusaibah menyebutnya dengan nama yang indah, Liqo' Keluarga.

Uni Maryam berperan sebagai moderator, umi mentasmi’kan surat An Naba', kultum disampaikan oleh Kak Nusaibah. Dan tentu saja puncaknya adalah nasihat dari sang murabbi agung dalam keluarga ini, Abi tercinta.

Dan jangan lupakan si kecil, adik Muhammad, yang menemani acara dengan riang gembira sambil bermain balon.

Kultum Perdana: Malaikat Itu Nyata

Sore itu, Kak Nusaibah menyampaikan kultum pertamanya dengan penuh semangat.
Temanya adalah, “Ternyata malaikat juga berwujud, lho.”
Karena ini kali pertama, Kakak masih membacakannya dari buku. Tapi sungguh, ada rasa syahdu yang hadir saat ia berbagi ilmu, membuat suasana hati kami hangat.

Abi pun tak kalah memberi warna. Ia menyuguhkan kisah tentang Imam Kisa'i. Dahulu, beliau hanyalah seorang penggembala kambing. Namun suatu hari, seorang ibu menjadikannya contoh kebodohan di depan anaknya. Kata-kata itu membuatnya tersentuh, hingga ia menjual kambing-kambingnya, lalu tekun belajar meski sudah berusia 40 tahun.
Hasilnya luar biasa, ia tumbuh menjadi ulama besar, bahkan menjadi guru bagi anak-anak khalifah.

Pesan Abi jelas, Jangan pernah berhenti belajar. Jangan marah ketika direndahkan. Teruslah berusaha, sebab ilmu akan mengangkat derajatmu.
MasyaAllah, kisah-kisah dari Abi memang selalu berhasil membangkitkan semangat kami.

Kehangatan Sore Itu

Sore itu semakin lengkap dengan suguhan kecil yang dibawakan Abi, roti bakar lumer dan susu full cream, kesukaan kami semua. Mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam kebersamaan, segalanya terasa begitu nikmat.

Di penghujung halaqah, Abi memimpin doa. Suasana hening, hati kami terhubung dan ada harapan yang terpanjat, semoga majelis kecil ini menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup keluarga kami.

Kami sepakat, halaqah ini akan menjadi agenda rutin sekali dalam dua pekan. Tugas-tugasnya akan bergilir, agar anak-anak belajar arti tanggung jawab. Lebih dari itu, kami ingin mereka merasakan bahwa ibadah, ilmu, dan kebersamaan adalah sesuatu yang indah.

Harapan Seorang Ibu

Di dalam hati, umi hanya berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami shalih dan shalihah, cintakan mereka kepada ilmu, jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang istiqamah dalam belajar hingga akhir hayat.”

Mumpung hari Senin ini anak-anak sedang libur karena akan ada demo, bolehlah umi memberi hadiah kecil untuk mereka. Kata mereka dengan ceria, “Masak enak lagi ya, Umi?”
Dan tentu umi menjawab dengan senyum, “Siap!”

Halaqah ini mungkin sederhana, tetapi doa kami besar, semoga dari ruang tamu kecil ini lahir jiwa-jiwa yang cinta ilmu, cinta kebaikan dan cinta Allah.

02 Juni 2025

EMPATI UNTUK YANG BATAL BERANGKAT HAJI

EMPATI UNTUK YANG BATAL BERANGKAT HAJI


Kabarnya yang berhaji jalur Furoda tidak ada yang bisa berangkat karena visa haji mereka tidak keluar sama sekali. Saya pribadi ikut berempati dengan mereka yang tidak jadi berangkat haji ini. Saya berdoa semoga tahun depan Allah mudahkan bagi mereka untuk berhaji.

Ada narasi yang muncul yang mengesankan kalau kejadian ini menunjukkan bahwa Allah tidak meredhai mereka berangkat. Atau bahasa lainnya, langit belum berkehendak. Terkesan pula ada yang "senang" mereka tidak berangkat. Haji itu gak bisa dibeli dengan uang. Dan kalimat-kalimat lainnya.

Saya pribadi tidak setuju dengan narasi-narasi dan penggiringan opini seperti itu. Seolah-olah bersyukur orang lain dapat musibah. Sebagai orang beriman, kita tetap harus berempati bila ada muslim yang lain tertimpa musibah atau mengalami hal yang tidak menyenangkan.

Tidak semua yang bisa berangkat haji dan sudah sampai di tanah suci, berarti mereka sudah diredhai Allah. Itu urusan Allah dan gak usah pula kita ambil alih. Dan tidak semua yang selesai berhaji akan memperoleh haji mabrur. Bahkan boleh jadi yang tidak mabrur yang malah lebih banyak. Buktinya, lihat saja ibadah dan akhlaknya sepulang haji, apakah semakin membaik atau tidak? Waktu pergi haji dia masih merokok, pulang dari haji masih tetap saja merokok. Pergi haji uangnya masih disimpan di bank riba. Pulang haji juga gak berubah. Dan banyak contoh-contoh lainnya.

Sebaliknya, orang yang sudah menyiapkan diri untuk berhaji, sudah membayar ongkosnya lunas. Lalu tidak jadi berangkat sama sekali karena faktor-faktor lain. Maka bila dia ikhlas dan tulus karena Allah, dia bisa mendapatkan pahala haji secara sempurna. Lagi-lagi itu urusan Allah. Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niat. Dan Allah akan memberi balasan sesuai dengan niat hambaNya.

Oh dia pergi haji karena punya uang ratusan juta atau bahkan milyaran, lha itu gak ada urusan. Pergi haji itu memang wajibnya bagi yang mampu, bukan bagi yang mau. Bila dia mampu bayar 300 atau 400 juta, lalu bisa langsung berangkat tanpa antri, ya silakan saja. Alhamdulillah uang dia gunakan untuk berhaji (beribadah) bukan berjudi. Jangan kita cemburu apalagi dengki. 

Apalagi haji Furoda itu selama ini dilegalkan oleh pemerintah dan juga Kerajaan Saudi. Bukan pendatang haram atau illegal. Maka sebaiknya, bila ada saudara kita terpilih berangkat haji, kita bahagia dan bersyukur. Bila sebaliknya, ada yang batal atau terkendala, kita doakan kebaikan baginya.

Catatan, saya bukan pengelola travel haji furoda, gak ada pula saudara atau kerabat saya yang masuk terkena pembatalan ini. Saya hanya ikut berempati kepada mereka. Allahu Waliyyut taufiq.

Ditulis oleh Irsyad Syafar

PKS Foto Sumbar

[PKS Foto Sumbar][recentbylabel3]

Dakwah

[Dakwah][recentbylabel3]
Pemberitahuan
Jangan lupa untuk like dan subscribe PKS Sumbar.
Done